Jepara Rangkul Guru Lawan Stigma Kusta, Masih Jadi Ancaman Anak Indonesia
HALO JEPARA – Penyakit kusta masih menjadi ancaman di Indonesia. Anak dan pelajar menjadi kalangan paling rentan terserang penyakit yang disebabkan infeksi mycobacterium leprae ini.
Hal ini mengemuka saat Workshop/Training of Trainers (ToT), Penghapusan Stigma Kusta, Penguatan Peran Guru dan Kampanye Percepatan Eliminasi Kusta di Indonesia yang digelar di Pendopo RA Kartini Jepara, Senin (28/9).
Hadir dalam kegiatan ini Bupati Jepara Witiarso Utomo, Ketua Umum PGRI Prof Dr Unifah Rosyidi, Program Officer Hansen’s Disease Program Sasakawa Health Foundation Takumi Owada serta 100 kepala sekolah, wakil kepala sekolah, maupun perwakilan sekolah dari sembilan kota di Jawa Tengah.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya lingkungan sekolah, mengenai kusta sekaligus mencegah stigma dan diskriminasi terhadap anak yang terinfeksi.
Bupati Jepara Witiarso Utomo mengatakan keterlibatan guru menjadi penting karena sekolah merupakan salah satu lingkungan utama tempat anak berinteraksi dan menjalani aktivitas sehari-hari.
“Ini sangat penting karena kenyataannya kusta bukan semata-mata persoalan kesehatan. Ada hal lain yang juga penting dan harus kita lawan, mulai dari ketakutan, stigma, ketidaktahuan, dan diskriminasi yang selama ini masih menyertai penyakit tersebut,” ujar Witiarso.
Data WHO menunjukkan persoalan kusta masih menjadi perhatian dunia. Indonesia berada di peringkat ketiga dunia dengan kasus kusta terbanyak setelah India dan Brasil.
Pada 2025, Indonesia melaporkan lebih dari 16.000 kasus baru kusta, dengan 9,1 persen di antaranya merupakan anak-anak.
Provinsi dengan temuan kasus kusta tertinggi di Indonesia seperti Sulawesi Utara, Papua, Maluku dan Kalimantan Selatan.
Sedang di Provinsi Jateng, angka kusta diperkirakan sekitar 10 persen atau 1.600 kasus.
Witiarso menyebut, di Kabupaten Jepara saat ini terdapat sekitar sembilan anak yang teridentifikasi mengalami kusta. Mereka berada pada rentang usia 9-15 tahun.
Selama ini, anak-anak tersebut mendapatkan pendampingan dari Dinas Kesehatan. Namun, menurut Witiarso, penanganan tidak cukup hanya dilakukan dari sisi medis.
Lingkungan sekolah juga perlu mendapatkan pemahaman agar anak dapat tetap belajar dan bersosialisasi tanpa mendapatkan perlakuan berbeda.
“Sekarang kita libatkan guru-guru agar anak-anak ini bisa diterima di sekolah dan tidak mengalami diskriminasi,” katanya.
Dengan melibatkan sekolah, Pemkab Jepara berharap upaya penanggulangan kusta dapat berjalan lebih menyeluruh.
Tidak hanya menemukan dan mengobati kasus, tetapi juga memastikan anak-anak yang terdampak tetap mendapatkan hak pendidikan dan lingkungan sosial yang aman.
Melalui workshop dan kampanye tersebut, para guru diharapkan dapat menjadi penggerak edukasi di lingkungan sekolah. Mereka juga diharapkan mampu menyampaikan informasi yang benar mengenai kusta kepada siswa, guru, maupun orang tua.
“Kusta tidak hanya berdampak terhadap kondisi kesehatan penderitanya, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan sosial ketika masyarakat masih memiliki pemahaman yang keliru mengenai penyakit tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Program Officer Hansen’s Disease Program Sasakawa Health Foundation Takumi Owada mengatakan Jepara dipilih karena Kota Ukir ada rumah sakit yang khusus menangani kusta.
Pihaknya berharap pelibatan guru menjadi strategi jitu untuk sosialisasi pengenalan waspada kusta, penguatan deteksi dini, pencegahan, penanganan komplikasi, hingga penghapusan stigma.
“Kalau ada anak yang terinfeksi juga bisa ditangani langsung oleh puskesmas terdekat. Kita berharap agar angka kasus tidak ditutupi sehingga penanganan bisa lebih maksimal,” tandasnya. (*)
