Konsultasi Widyaiswara Online, Inovasi Bapelkum Semarang Perkuat Menuju WBBM
HALO JATENG- Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang di bawah naungan Kementerian Hukum kembali menunjukkan taringnya dalam reformasi birokrasi. Jumat, 24 April 2026, lembaga ini menjalani desk evaluasi menuju predikat Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM).
Namun, yang mencuri perhatian bukan sekadar proses evaluasi, melainkan deretan inovasi yang dipamerkan secara konkret dan aplikatif.
Bertempat di auditorium lantai 2 Gedung A, suasana evaluasi berlangsung hidup. Tim Penilai Internal dari Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum tampak aktif menggali setiap detail inovasi yang disajikan.
Evaluasi kali ini dipimpin langsung oleh Morina Harahap, yang menekankan pentingnya konsistensi antara inovasi dan dampaknya bagi publik.
Bapelkum Semarang bukan pemain baru dalam reformasi birokrasi. Lembaga ini sebelumnya bernama Badiklat Hukum Jawa Tengah dan telah mengantongi predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) pada 2020.
Kini, tantangan berikutnya adalah naik kelas menuju WBBM, predikat yang tidak hanya menuntut bersih, tetapi juga melayani secara prima.
Kepala Bapelkum Semarang, Rinto Gunawan Sitorus, tampil percaya diri memaparkan inovasi unggulan bertajuk “One Bapelkum Semarang”. Portal ini dirancang sebagai pusat layanan terpadu, yang menggabungkan berbagai kebutuhan pengembangan kompetensi dalam satu platform digital.
Tujuannya jelas: memangkas birokrasi, mempercepat layanan, dan meningkatkan aksesibilitas.
“Semua layanan kini dalam satu pintu. Lebih cepat, lebih terintegrasi, dan lebih mudah diakses,” ujar Rinto dalam pemaparannya. Ia menegaskan bahwa inovasi ini tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari kebutuhan nyata ASN yang membutuhkan layanan pelatihan yang fleksibel dan responsif.
Di balik portal tersebut, peran agen perubahan menjadi kunci. Salah satunya adalah widyaiswara Muh Khamdan yang menghadirkan fitur “Konsultasi Widyaiswara Digital”.
Layanan ini memungkinkan ASN hingga masyarakat umum berkonsultasi secara daring terkait pengembangan kompetensi dan konsep corporate university.
Menariknya, layanan ini terinspirasi dari platform kesehatan digital Halodoc. Bedanya, jika Halodoc melayani konsultasi medis, maka inovasi Bapelkum ini fokus pada konsultasi pengembangan kapasitas SDM.
Pengguna cukup mengakses platform, lalu terhubung dengan widyaiswara sesuai kebutuhan bidangnya.
Tak berhenti di layanan konsultasi, sistem ini juga menyimpan dan mengolah data interaksi pengguna. Hasilnya menjadi dasar Analisis Kebutuhan Pengembangan Kompetensi (AKP).
Dari sana, lahir rekomendasi pembentukan community of interest (CoI), hingga integrasi pengetahuan melalui dokumentasi tacit knowledge dan best practices.
Dengan hanya 20 pegawai, Bapelkum Semarang mampu menjangkau 11 provinsi dengan sasaran lebih dari 1.400 ASN.
Skala ini menunjukkan bahwa inovasi digital mampu melipatgandakan jangkauan layanan tanpa harus bergantung pada jumlah sumber daya manusia.
Lebih jauh, kehadiran “One Bapelkum Semarang” juga membuka akses bagi masyarakat umum di bidang hukum. Ini menjadi sinyal bahwa Bapelkum tidak hanya berorientasi internal, tetapi juga berkontribusi pada literasi hukum publik.
Jika konsistensi inovasi ini terus dijaga, bukan tidak mungkin predikat WBBM segera diraih. Bukan sebagai target semata, melainkan hasil dari kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. (*)
