SMAN 1 Jepara Tuan Rumah TPN XIII, Ratusan Guru Diajak Berkarya Lewat Tulisan
HALO JEPARA— Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII di Kabupaten Jepara diikuti ratusan pendidik dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, MI, SMP, MTs, SMA, SMK, hingga MA. Para peserta dari berbagai daerah tampak antusias mengikuti kegiatan yang diselenggarakan di SMAN 1 Jepara, Sabtu (4/7/2026).
Selain menjadi ajang silaturahmi antarpendidik, kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan kompetensi dan wawasan para guru melalui kehadiran sejumlah narasumber yang ahli di bidangnya.
Tahun ini, rangkaian kegiatan meliputi kunjungan pameran karya, penyerahan beasiswa pendidikan, bincang pendidikan, kelas kompetensi, cerdas cermat guru, serta kelas pendidik dan kepemimpinan.
Salah satu narasumber yang hadir ialah Khoirul Muslimin Wakil Dekan Fakultas Komunikasi dan Desain serta anggota Dewan Pendidikan Jawa Tengah. Pada kelas Pendidik dan Kepemimpinan, ia menyampaikan materi bertema “Menulis Pemula, Berkarya Hebat: Panduan Praktis Membangun Karya Tulis dari Nol.”
Dalam pemaparannya, Khoirul Muslimin menjelaskan bahwa menulis bukan sekadar bakat, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih secara berkelanjutan.
Menurutnya, banyak orang memiliki ide yang baik, tetapi kerap mengalami kesulitan untuk memulai karena belum memahami langkah-langkah dasar dalam menyusun tulisan.
“Menulis pemula, berkarya hebat, merupakan panduan praktis membangun karya tulis dari nol. Kuncinya bukan menunggu mahir, tetapi berani memulai dan konsisten berlatih,” kata Khoirul Muslimin di hadapan peserta.
Ia menekankan pentingnya budaya menulis bagi para pendidik. Menurutnya, pengetahuan yang ditulis akan memiliki daya simpan yang lebih panjang dibandingkan kemampuan daya ingat manusia.
“Ikatlah pengetahuan dengan menulisnya, karena pengetahuan yang ditulis akan tersimpan di atas keterbatasan daya ingat manusia,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Khoirul juga menjelaskan pengertian buku berdasarkan definisi UNESCO. Menurutnya, buku merupakan terbitan berupa kumpulan tulisan yang memiliki jumlah halaman tertentu sehingga dapat dikategorikan sebagai sebuah buku.
Selain itu, ia memaparkan anatomi buku yang terdiri atas beberapa bagian. Bagian luar berupa cover atau sampul buku, kemudian bagian awal (front matter) yang memuat halaman pengantar dan identitas buku, bagian isi (text matter) yang berisi inti pembahasan atau materi utama, serta bagian akhir (end matter) yang memuat referensi, indeks, dan profil penulis.
Khoirul juga memperkenalkan teknik menulis yang dapat diterapkan oleh penulis pemula, yakni metode ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Menurutnya, seorang penulis dapat belajar dari karya yang telah ada untuk mengembangkan ide dan meningkatkan kemampuan menulis.
“Penulis boleh menyadur, tetapi sumber dan referensi harus dicantumkan secara jelas dari mana data diperoleh,” katanya.
Selain itu, peserta juga dikenalkan pada metode PREC (Point, Reason, Example, Conclusion) untuk membantu penulis menyusun gagasan mulai dari pokok pikiran, alasan pendukung, contoh atau bukti, hingga kesimpulan.
Metode lainnya yang diperkenalkan ialah SEES (Statement, Explanatory, Example, Summary) yang digunakan sebagai kerangka menyusun tulisan secara sistematis.
Menurut Khoirul, kedua metode tersebut dapat membantu penulis pemula menyusun ide secara runtut sehingga tulisan menjadi lebih mudah dipahami pembaca.
Ia menambahkan proses menulis tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Menulis dapat diawali dari pengalaman sehari-hari, hasil pengamatan, aktivitas pembelajaran, maupun gagasan sederhana yang kemudian dikembangkan menjadi artikel, opini, atau buku.
“Jangan takut tulisan tidak sempurna. Tulisan yang selesai lebih baik daripada ide yang hanya disimpan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Khoirul juga membagikan cara menyusun artikel opini melalui anatomi penulisan yang terdiri atas headline atau judul, byline yang memuat nama dan identitas penulis, lead atau teras tulisan yang berisi data dan pernyataan utama.
Lalu neck sebagai penghubung antara pembuka dan isi artikel, body yang memuat teori, penjelasan, fakta, contoh, serta kutipan pendukung, dan leg atau bagian akhir yang berisi kesimpulan serta saran penulis.
Ia menegaskan hal paling penting dalam menulis adalah menata niat. Menurutnya, menulis sebaiknya tidak dilakukan semata-mata karena perintah atasan, kepala sekolah, atau sekadar memenuhi persyaratan kenaikan jabatan.
“Menulis harus diniatkan untuk berbagi pengetahuan dan ilmu secara ikhlas. Dengan begitu, apa yang kita tulis dapat menjadi amal saleh yang terus mengalir manfaatnya,” tuturnya.
Khoirul juga menyampaikan kebiasaan menulis dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menulis puisi, cerpen, pengalaman pribadi, maupun opini sederhana agar seseorang terbiasa menuangkan ide ke dalam tulisan.
Melalui kelas tersebut, para peserta tidak hanya memperoleh motivasi untuk mulai menulis, tetapi juga mendapatkan panduan praktis mengenai teknik menyusun karya tulis secara sistematis.
Materi yang disampaikan diharapkan mampu mendorong para pendidik menghasilkan karya sekaligus membangun budaya literasi di lingkungan pendidikan.
Selain materi dari Khoirul Muslimin, kegiatan tersebut juga menghadirkan narasumber lain, di antaranya Miftahussalam, guru SMA Negeri 1 Nalumsari, yang menyampaikan materi bertajuk “Belajar Keanekaragaman Hayati Lingkungan Sekolah Adiwiyata Berbasis Hasil Karya Digital.”
Selain itu, Fatikhah Zamzam, guru SMA Negeri Welahan, turut menyampaikan materi bertema “Pengalaman Belajar Bermakna Berbasis Potensi Lokal untuk Masa Depan Murid.” (*)
