CARA HIPSI Tegal Jawab Tantangan Ketahanan Pangan, Bangun Potensi Lokal Kolaborasi Pengusaha Santri
HALO JATENG- Dewan Pimpinan Daerah Himma Pengusaha Santri Indonesia (DPD HIPSI) Kabupaten Tegal memperingati Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2026 dengan menggelar Seminar Nasional bertema Strategi Ketahanan Pangan Berbasis Pesantren dan Kawasan Pedesaan bertempat di Pendopo Kabupaten Tegal, di Slawi, Minggu, 18 Oktober 2026).
Acara strategis ini menghadirkan lima narasumber yaitu M. Sholahul Am Notobuwono, S.E., M.M., (Ketua Umum DPP HIPSI), Prof. Dr. H. Mukhsin Jamil, M.Ag. (Ketua Yayasan Omah Mijil Tegal) Dr. M. Kholidul Adib, MSI (Sekretaris DPW HIPSI Jawa Tengah), Ustad Rojik (Pembina HIPSI Tegal) dan M. Bintang Aris Lukman Hakim, S.H. (Ketua DPD KNPI Kabupaten Tegal).
Kegiatan seminar berlangsung khidmat dihadiri para anggota HIPSI Kabupaten Tegal dan tamu undangan dari unsur pejabat pemerintah, kodim, polres, pengasuh pesantren, aktivis dan para santri.
Ketua DPD HIPSI Kabupaten Tegal, Eko Wahyudi, M.Hum., menegaskan kaum santri tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan harus menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. Salah satu implementasi konkret yang digagas adalah optimalisasi sektor peternakan lokal dan pertanian terpadu melalui pembentukan tim khusus.
“Sebagai bentuk nyata komitmen HIPSI Tegal pada ketahanan pangan, kami melakukan kerjasama dalam pembinaan pelaku usaha budi daya Durian Markonah dan warung sate kambing Mba Puk. Durian Markonah merupakan varian durian langka dan khas yang berasal dari Desa Lembahsari, Kecamatan Jatinegara,*
“Daging buahnya berwarna kuning langsat, bertekstur kenyal, legit, dan manis luar biasa. Saat ini populasinya sangat terbatas dan menjadi primadona dalam festival durian lokal. Sedangkan sate Mba Puk merupakan bentuk pembinanan UMKM guna mengembangkan usaha warung sate yang khas Tegal dimana terjadi kolaborasi antara peternak kambing dan pelaku usaha sate kambing,” ujar Eko Wahyudi.
Ustad Rojik (Pembina HIPSI Tegal) menyampaikan pentingnya membangun tekad yang kuat dari kalangan santri untuk membangun ekonomi. “Melalui program ketahanan pangan ini, kita fokus menggerakkan potensi lokal Tegal. Santri harus mandiri secara ekonomi dan mampu hadir memberikan solusi konkret bagi ketersediaan pangan di daerah,” ujar Ustadz Rojik.
M. Bintang Aris Lukman Hakim, S.H. (Ketua DPD KNPI Kabupaten Tegal) juga menekankan pentingnya memberikan kesadaran kepada generasi muda untuk memahami tantangan zaman sekarang dan bagaimana menggunakan teknologi yang berkembang pesat untuk keperluan pengembangan usaha sehingga generasi muda bisa mandiri.
HIPSI, Pesantren dan Ketahanan Pangan
Dr. M. Kholidul Adib, MSI, Sekretaris DPW HIPSI Jateng dalam paparannya mendukung program ketahanan pangan yang sedang dijalankan oleh HIPSI Tegal. Menurut Adib, ketahanan pangan wajib ada karena pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang menentukan kelangsungan hidup, kesehatan, dan kestabilan suatu bangsa.
Apalagi sekarang ini menghadapi tantangan pangan global akibat ketidakpastian iklim (El Nino/La Nina), alih fungsi lahan, dan ketergantungan impor. Sementara sumber daya alam di dalam negeri yang sangat melimpah belum optimal dikerjakan, padahal di kawasan pedesaan memiliki lahan luas, namun produktivitasnya sering kali terkendala modal dan teknologi.
Program ketahanan pangan, menurut Adib, sangat penting guna memenuhi kebutuhan dasar manusia, menjaga kesehatan dan mencegah stunting, menjaga stabilitas ekonomi dan harga, mencegah gejolak sosial dan politik, mengurangi ketergantungan impor dan mendukung pertahanan dan kemandirian nasional.
“HIPSI sebagai wadah para wirausahawan berlatar belakang santri dapat mengintegrasikan nilai-nilai pesantren dengan sektor agribisnis, peternakan, dan teknologi pangan. Sedangkan Pesantren adalah jangkar sosial-ekonomi yang memiliki modal sosial kuat, SDM melimpah (santri), dan kepatuhan masyarakat kepada kiai masih kuat, tentu ini menjadi potensi untuk program penguatan ketahanan pangan nasional,” ujar Adib.
Adib menegaskan, HIPSI dan Pesantren memiliki modal yang cukup untuk melaksanakan program ketahanan pangan, misalnya, modal lahan, banyak pesantren di pedesaan yang memiliki aset tanah wakaf produktif yang belum tergarap optimal.
Kemudian modal SDM dimana ribuan santri dan alumni yang berdomisili di pedesaan yang siap dilatih menjadi “Santripreneur” di bidang agribisnis, dan modal jejaring ekonomi karena ekosistem pesantren, baik santri, wali santri, konsumsi internal, dapat menciptakan pasar domestik yang solid dan mandiri.
“HIPSI dan Pesantren dapat memfasilitasi dalam hal sinergi kurikulum agro guna melatih jaringan pesantren dalam pemanfaatan lahan-lahan produktif milik yayasan atau kerjasama dengan masyarakat agar mampu menjadi lumbung pangan mandiri yang berkelanjutan. Selanjutnya perlu ada pelatihan pengemasan dan akses pasar guna mengedukasi UMKM pesantren dan masyarakat mengenai standardisasi produk, digital marketing, hingga pengurusan izin usaha dan sertifikasi halal,”
“Belajar di desa asal saya di Demak, ada UMKM dari sejumlah tetangga saya yang membuat makanan snack tumpi berbahan kacang hijau dan tepung yang digoreng dan bisa masuk minimarket dan sanat laris sangat laku di pasaran,” ujar Adib.

Pemberdayaan Masyarakat di Sektor Ketahanan Pangan
Prof. Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag, Ketua Yayasan Omah Mijil Danawarih Tegal, menyampaikan bahwa Kabupaten memiliki potensi alam yang melimpah untuk memperkuat sektor ketahanan pangan.
Prof. Mukhsin Jamil sangat aktif membimbing dan menginisiasi penguatan ketahanan pangan dengan mengadakan kolaborasi antara dunia akademik, pemerintah daerah, dan lembaga filantropi dalam pengembangan program pemberdayaan masyarakat berbasis masyarakat di Desa Danawarih.
Di Omah Mijil, Prof. Mukhsin telah meluncurkan Balai Ternak sebagai ruang pemberdayaan dan pengembangan aktivitas sosial masyarakat. Kehadiran Omah Mijil telah menjadi pusat kolaborasi, edukasi, dan penguatan komunitas warga di Desa Danawarih dan sekitarnya.
Prof. Mukhsin menegaskan melalui sinergi berbagai pihak tersebut, Balai Ternak dan Omah Mijil diharapkan mampu menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan, produktif, dan berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan warga.
HIPSI Institute
Ketua Umum DPP HIPSI, M Sholahul Am Notobuwono atau Gus Aam, mengapresiasi akselerasi program kerja yang ditunjukkan oleh pengurus daerah. Beliau menekankan pentingnya sinergi antara nilai-nilai kepesantrenan dengan manajemen bisnis modern untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional.
Gus Aam berharap melalui HIPSI akan dapat menguatkan kerja sama antarsantri dan antarpesantren di berbagai daerah. Gus Aam menyampaikan bahwa dengan membangun jaringan yang luas, unit usaha di pesantren yang tadinya bersifat lokal dapat saling menopang dan menjadi lebih besar.
Gus Aam mendukung upaya DPP HIPSI Kabupaten Tegal dengan program HIPSI Farm, yang fokus pada ketahanan pangan sehingga ke depan peran pengusaha santri sangat ditekankan untuk ikut berkontribusi nyata pada ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan demi mendukung kemandirian bangsa.
Gus Aam secara konsisten membawa misi dan visi utama organisasi yang juga menjadi landasan materi serta pesan dalam berbagai seminar nasional HIPSI. Gus Aam menegaskan target besar HIPSI untuk menumbuhkan satu juta wirausahawan dari kalangan santri.
Melalui seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan, ia mendorong anak muda dan santri yang memiliki usaha lokal agar bisa berkembang dan “naik kelas” ke tingkat nasional hingga internasional.
Gus Aam juga menekankan pentingnya santri abad ke-21 memiliki wawasan global, adaptif terhadap perkembangan teknologi digital, serta tidak ragu untuk bersaing di kancah internasional.
Untuk itu, Gus Aam mendirikan HIPSI Institute sebagai ruang pembelajaran bagi para santri untuk belajar bisnis. HIPSI Institute merupakan sebuah lembaga yang diinisiasi DPP HIPSI di era Gus Aam.
Secara legal, lembaga ini bernaung di bawah organisasi DPP HIPSI. Secara keseluruhan, HIPSI Institute berperan sebagai pusat pelatihan (training center) dan inkubasi untuk merealisasikan visi besar HIPSI dalam mencetak 1 juta santri pengusaha di Indonesia.
Dukungan Pemkab Tegal
Bupati Tegal, H. Ischak Maulana Rohman, S.H., melalui Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, dan Perdagangan (Dinkopukmdag), Kabupaten Tegal, Imam Rudy Kurnianto, Imam Rudy Kurnianto, menyambut baik kegiatan tersebut.
Bupati menekankan bahwa momentum Hari Santri Nasional yang diselenggarakan oleh DPD HIPSI Kabupaten Tegal tidak hanya bermakna seremonial keagamaan saja, melainkan pendorong agar kaum santri mampu berdaya secara ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru.
Bupati berharap DPD HIPSI Kabupaten Tegal terus konsisten mengawal serta mencetak wirausaha baru dari kalangan santri agar berkontribusi nyata pada peradaban ekonomi daerah.
Bupati menegaskan Pemerintah Kabupaten Tegal berkomitmen memfasilitasi para santripreneur dalam pemenuhan legalitas usaha, termasuk perluasan kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta fasilitasi sertifikasi produk halal.
Perlu ada sinergi antara dinas terkait dengan HIPSI ditujukan untuk meningkatkan mutu produk lokal agar naik kelas dan memiliki daya saing kompetitif di tingkat regional hingga pasar nasional.
Sektor usaha berbasis pesantren diharapkan ikut menyokong stabilitas ketahanan pangan regional (melalui inisiasi sektor agro/kemitraan produktif) serta menggerakkan industri kreatif konveksi, kuliner, dan kerajinan lokal khas Tegal. [emka]


















