Cerita Ardella Kena ISPA Gegara Debu Jalan di Kecapi, Sosok Ini Terjunkan Mobil Tangki, Tuntaskan Pelebaran Jalan
HALO JEPARA – Unggahan viral di media sosial terkait debu jalan desa di Dukuh Nganjir Desa Kecapi Kecamatan Tahunan yang mengganggu dan bahkan memicu infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) direspon oleh Ketua DPRD Jepara Agus Sutisna. Wakil rakyat yang juga berdomisili di Desa Kecapi ini turun ke Dukuh Nganjir, Minggu (11/10/2026).
Ia tak datang dengan tangan hampa. Namun membawa serta dua mobil tangki Damkar Jepara untuk membasahi debu yang bertumpuk di sepanjang jalan desa di kawasan RT 21 RW 4 Dukuh Nganjir.
Debu ini berasal dari tumpukan tanah yang sebelumnya diproyeksikan untuk pelebaran jalan desa Kecapi di Dukuh Nganjir. Sayangnya, proyek pelebaran jalan yang dilakukan Pemdes Kecapi itu mangkrak. Dampaknya dirasakan warga saat musim kemarau seperti sekarang ini.
Jika tak disirami, debu jalan sepanjang 250 meteran itu memang mudah beterbangan. Tak hanya “mampir” di halaman, namun juga teras, ruang tamu bahkan kamar rumah warga Dukuh Nganjir.
Salah seorang warga Dukuh Nganjir, Devi mengaku sangat terganggu dengan debu jalan. Terlebih saat musim kemarau berkepanjangan seperti sekarang ini, debu itu beterbangan tak kenal waktu. Mulai dari pagi, siang hingga malam hari.
Bahkan anaknya yang bernama Ardella (6 tahun) terkena infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA gegara debu yang beterbangan selama beberapa bulan terakhir.
“Kemarin masuk rumah sakit. Awalnya didiagnosis tipes, setelah diperiksa ternyata kena ISPA juga. Dokter bilang ISPA itu karena debu,” kata ibu rumah tangga ini.
Keluhan serupa juga disampaikan Dwi Anita. Meski rajin diberslhkan, namun debu tanah merah itu terus merangsek hingga ruangan dalam rumahnya.
“Debu datang ga kenal waktu. Kalau ga dibersihkan sehari, rumah terlihat kotor karena debu ada di meja ruang tamu, dapur hingga kamar,* ujar Anita.
Persoalan debu ini viral setelah aksi puluhan pemuda Dukuh Nganjir yang melakukan penyiraman secara swadaya. Berbekal air dari sungai setempat yang dimuat di tandon dan dinaikkan di mobil bak terbuka, pemuda Dukuh Nganjir menyirami debu imbas pelebaran jalan desa yang mangkrak itu.
“Solusi sementara memang seperti ini. Kita bisanya seminggu sekali karena air di sungai menipis. Itupun juga gantian dengan petani. Alhamdulillah kalau sekarang ada bantuan dari Ketua DPRD Jepara jadi kita tak perlu pusing lagi cari air,” kata Koordinator Pemuda Dukuh Nganjir, Aldi Chandra.
Sementara itu, Ketua DPRD Jepara Agus Sutisna mengatakan pihaknya gercep turba karena persoalan debu di Dukuh Nganjir sudah dikeluhkan banyak warga. Tak hanya soal rumah yang kotor, namun juga terkait kesehatan hingga aspek kehidupan warga yang terganggu gegara debu.
Pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan jajaran Pemkab Jepara terkait penanganan debu tersebut.
“Penyiraman kita lakukan rutin tiap minggu selama kemarau. Saya sudah minta minggu ini dari Damkar Jepara, minggu depannya DLH, lanjut PDAM dan lainnya. Kita minimalisir debu,” jelasnya.
Di sela aksi penyiraman, tim Agus Sutisna juga melakukan pengukuran panjang jalan desa tersebut. Diketahui panjang jalan desa itu sekitar 250 meter.
Agus Sutisna menambahkan pihaknya juga akan menganggarkan penuntasan pelebaran jalan desa tersebut dalam APBD Perubahan Jepara tahun 2027. Karena statusnya jalan desa, maka anggaran itu akan dimasukkan melalui bantuan keuangan desa (bankeudes) yang besarannya maksimal Rp200 juta.
“Bisa saja ambil opsi jalan itu dinaikkan statusnya menjadi jalan kabupaten. Tapi itu paling cepat bisa tahun 2028, ini hasil komunikasi dengan Kabid Bina Marga DPU PR Jepara. Opsi bankeudes itu yang paling realistis,” tandasnya.
Agus Sutisna juga berpesan agar warga selalu menggunakan masker. Menurutnya persoalan debu jalan tak boleh disepelekan. Terlebih sudah ada anak-anak Dukuh Nganjir yang terserang batuk, bahkan didiagnosis ISPA.
“Langkah pencegahan harus diutamakan, intinya jangan anggap sepele masalah debu ini,” tandas Agus Sutisna. (*)































