CARA Memahami Angka di Balik Stabilitas Ekonomi, Begini Ajakan BPS Jepara

CARA Memahami Angka di Balik Stabilitas Ekonomi, Begini Ajakan BPS Jepara
CARA Memahami Angka di Balik Stabilitas Ekonomi, Begini Ajakan BPS Jepara

CARA Memahami Angka di Balik Stabilitas Ekonomi, Begini Ajakan BPS Jepara

HALO JEPARA – Memahami kondisi ekonomi tidak cukup hanya dengan melihat satu angka. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang terkendali, atau angka pengangguran yang menurun perlu dibaca bersama indikator lainnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Literasi Statistik bertajuk “Membedah Angka di Balik Pengukuran Stabilitas Ekonomi” yang digelar di Ruang Rapat Mal Pelayanan Publik (MPP) Jepara, Rabu (14/10/2026).

Kepala BPS Kabupaten Jepara, Isnaini dalam paparannya menjelaskan pentingnya memahami konteks di balik data statistik agar tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan kondisi perekonomian.

Menurutnya, setiap angka memiliki definisi, pembanding, dan konteks yang perlu diperhatikan sebelum digunakan untuk menarik kesimpulan.

LIHAT JUGA :  Bule Eropa dan Ribuan Warga Antusias Ikuti Kirab Buka Luwur Ratu Kalinyamat, Semarakkan Hari Jadi Kabupaten Jepara ke-476

Ia memaparkan, stabilitas ekonomi setidaknya perlu dilihat melalui lima indikator utama, yakni pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, sektor eksternal melalui neraca pembayaran, serta nilai tukar dan cadangan devisa.

Kelima indikator tersebut saling berkaitan dan perlu dibaca secara bersamaan untuk memahami kondisi ekonomi secara lebih menyeluruh.

Dalam mengukur pertumbuhan ekonomi, misalnya, penggunaan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan menjadi penting karena dapat menggambarkan perubahan volume produksi dengan mengesampingkan pengaruh kenaikan harga.

Dengan demikian, pertumbuhan yang tercatat dapat mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi secara riil, bukan sekadar kenaikan nilai akibat perubahan harga.

Pemahaman serupa juga diperlukan dalam membaca inflasi dan tingkat pengangguran. Kenaikan harga perlu ditelusuri berdasarkan komoditas dan penyebabnya.

Sedangkan penurunan tingkat pengangguran belum tentu sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan apabila pekerjaan yang tersedia masih didominasi sektor informal atau berpenghasilan rendah.

LIHAT JUGA :  Pisang Ditutup Lakban Ditempel di Dinding Laku Rp 98,7 Miliar, Pembelinya Sosok Ini

Selain faktor domestik, perekonomian Indonesia yang terbuka juga dipengaruhi perdagangan internasional, aliran modal, dan pergerakan nilai tukar.

Karena itu, kondisi ekonomi tidak dapat dilepaskan dari dinamika global yang turut memengaruhi aktivitas usaha dan daya beli masyarakat.

Melalui kegiatan literasi statistik ini, peserta diajak lebih kritis dalam membaca data dengan memperhatikan empat hal mendasar: apa pembandingnya, apakah angka yang digunakan bersifat nominal atau riil, kondisi apa yang mungkin tersembunyi di balik angka rata-rata, serta dari mana sumber data tersebut berasal.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jepara, Budhi Sulistyawan, diwakili Sekretaris Dinas Kominfo, Wahyanto, dalam kegiatan tersebut.

Penguatan literasi statistik diharapkan mendukung pemanfaatan data yang akurat dan terverifikasi, baik dalam penyusunan kebijakan pemerintah maupun dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

LIHAT JUGA :  Pilpet di Jepara Digelar 3 November 2026, Bupati Witiarso Wanti-wanti Ini

Dengan pemahaman statistik yang lebih baik, data diharapkan tidak berhenti sebagai deretan angka, tetapi menjadi dasar untuk membaca persoalan secara objektif dan mengambil keputusan yang lebih tepat. (*)