Kisah Mbah Jamiran, Lansia Kedungleper Hidup di Gedhek, Haru Rumahnya Dibedah Baznas
HALO JEPARA – Di sudut RT 01/RW 06 Desa Kedungleper, Kecamatan Bangsri, sebuah rumah mungil berukuran 5×6 meter berdiri sunyi. Letaknya tersembunyi, menempel pasrah di bagian belakang rumah salah satu anaknya. Di sanalah Jamiran, seorang kakek berusia 81 tahun, menghabiskan sisa hari-harinya bersama sang istri tercinta.
Pada Rabu (15/7/2026) siang suasana rumah yang biasanya sepi mendadak hangat. Ketua BAZNAS Kabupaten Jepara, M. Nasrullah Huda, datang berkunjung.
Kedatangan pria yang akrab disapa Gus Huda ini membawa sebuah kabar baik yang sudah lama dinanti oleh Mbah Jamiran, yakni sebuah bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) senilai Rp20 juta.
Namun, sebelum bantuan itu mengubah wajah rumahnya, potret keseharian Mbah Jamiran adalah sebuah kisah tentang ketabahan yang luar biasa. Tidak ada kemewahan yang bisa ditemukan di dalam rumah Mbah Jamiran.
Dindingnya hanya berupa kepingan triplek yang bersanding dengan gedhek (anyaman bambu) yang mulai longgar dimakan usia. Angin malam Bangsri dengan bebas menyelinap masuk lewat celah-celahnya.
Di dalam ruangan yang sempit itu, hanya ada sebuah televisi lawas dan satu unit rice cooker penanak nasi. Satu hal yang paling menyentuh hati siapa saja yang berkunjung adalah keberadaan satu-satunya tempat tidur di dalam rumah tersebut.
Ranjang sederhana itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat melepas lelah di malam hari, tetapi juga tempat bersujud menghadap Sang Pencipta.
Saat rombongan BAZNAS Jepara tiba, sebuah sajadah masih tampak tergelar rapi di atas tempat tidur. Karena keterbatasan ruang, di sanalah Mbah Jamiran dan istrinya mendirikan salat.
Meski tubuhnya tak lagi muda dan fisiknya mulai digerogoti usia, Mbah Jamiran enggan berpangku tangan. Demi menyambung hidup dan mengisi piring setiap hari, ia dan istrinya tetap bekerja dengan membantu memproduksi kerupuk milik salah satu kerabat mereka.
“Alhamdulilah putra sampun omah-omah sedaya, sakniki kalih mbahe mawon (Alhamdulillah anak-anak sudah berumah tangga semua, sekarang di rumah hanya tinggal berdua dengan nenek),” tutur Mbah Jamiran dengan senyum tulus yang menyembunyikan rasa lelahnya.
Bantuan senilai Rp20 juta yang diserahkan oleh BAZNAS Jepara hari itu memang tidak berupa uang tunai. Bantuan tersebut diwujudkan dalam bentuk material bangunan berkualitas dan upah untuk tenaga tukang.
Langkah ini diambil agar proses renovasi bisa berjalan cepat, transparan, dan tepat sasaran, berkolaborasi dengan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap III Tahun 2026.
Gus Huda menyampaikan bahwa kisah Mbah Jamiran adalah potret nyata dari amanah zakat yang harus segera dituntaskan. Dana yang disalurkan ini sepenuhnya berasal dari Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang dihimpun dari masyarakat Jepara.
“Kami ingin memastikan bahwa dana zakat yang diamanahkan kepada BAZNAS benar-benar menjadi jembatan kebaikan yang langsung menyentuh masyarakat dhuafa, khususnya para lansia,” ujar Gus Huda dengan mata berbinar penuh empati.
“Melalui sinergi taktis bersama TNI dalam program TMMD ini, kami berharap perbaikan rumah ini tidak hanya memberikan dinding yang lebih kokoh bagi Mbah Jamiran, tetapi juga menghadirkan tempat ibadah yang lebih layak, aman, dan nyaman di usia senjanya,” tambahnya.
Mendengar rumahnya akan segera bersalin rupa menjadi lebih kokoh, air muka Mbah Jamiran berubah haru. Kerutan di wajah senjanya melunak, digantikan oleh rasa syukur yang mendalam. Berkali-kali ia menjabat tangan Gus Huda dan tim BAZNAS Jepara, mengucapkan terima kasih atas kepedulian yang dihadirkan untuknya.
Bagi Mbah Jamiran, renovasi ini bukan sekadar perbaikan dinding triplek yang lapuk atau anyaman bambu yang berlubang. Ini adalah jawaban atas doa-doa panjang yang selalu ia rapikan di atas sajadah yang tergelar di atas ranjang tuanya. (*)

































