HALO JEPARA– Tinjau Waduk Teri, Bupati Jepara Witiarso Utomo dorong pengembangan agro wisata di Bangsri.
Waduk Teri merupakan akronim Wadah Edukasi Terintegrasi milik UPT Pembenihan dan Pembibitan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara yang berlokasi di Kecamatan Bangsri.
Mas Wiwit mengunjungi Waduk Teri pada Rabu (23/4). Kunjungan ini dilakukan dalam rangka meninjau potensi pengembangan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata edukatif berbasis pertanian dan peternakan.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati menyampaikan komitmennya untuk menginventarisir aset-aset milik pemerintah daerah yang berpotensi dikembangkan menjadi daya tarik wisata baru, khususnya di wilayah-wilayah non-pesisir seperti Bangsri.
“Kita sedang menginventarisir aset-aset pemerintah, barangkali bisa kita majukan sebagai destinasi wisata Jepara. Tempat ini sangat bagus. Nanti coba kita tata seperti apa konsepnya, supaya ini menjadi wisata di daerah Bangsri. Yang dipacu untuk wisata dari tempat ini adalah agro wisata,” kata Bupati Witiarso.
Waduk Teri sendiri merupakan kawasan edukasi terpadu yang berada di bawah pengelolaan DKPP Kabupaten Jepara. Lokasi ini mengintegrasikan berbagai unsur seperti peternakan, perikanan, dan pertanian dalam satu area.
Dengan berbagai potensi yang ada, kawasan Waduk Teri diharapkan dapat menjadi percontohan pengembangan wisata edukasi dan pertanian terpadu di Kabupaten Jepara.
“Pemerintah daerah akan menindaklanjuti dengan penataan konsep dan dukungan infrastruktur agar kawasan ini benar-benar menarik bagi masyarakat dan wisatawan,” ujarnya.
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) DKPP Jepara, Mudhofir, menjelaskan bahwa Waduk Teri dilengkapi fasilitas seperti kandang sapi, kambing, unggas, kolam ikan, serta kebun sayur dan buah. Tanaman buah yang ditanam di antaranya durian, kedondong, sukun, alpukat, pepaya, dan mangga.
“Tempat ini sangat cocok untuk edukasi anak-anak, terutama PAUD dan TK. Selain itu, luas lahannya sekitar 8 hektare, dan sudah digunakan untuk praktik bercocok tanam oleh anak PAUD dan TK, meski produksi buahnya belum maksimal,” ujar Mudhofir. (*)












