Ngaji Ramadan MWC NU Tahunan, 7 Larangan Anggota Badan Saat Puasa di Kitab Bahjatul Wasail karya Syaikh Nawawi Al Bantaniy

Ngaji Ramadan MWC NU Tahunan, 7 Larangan Anggota Badan Saat Puasa di Kitab Bahjatul Wasail karya Syaikh Nawawi Al Bantaniy (Foto Ist)
Ngaji Ramadan MWC NU Tahunan, 7 Larangan Anggota Badan Saat Puasa di Kitab Bahjatul Wasail karya Syaikh Nawawi Al Bantaniy (Foto Ist)

HALO JEPARA- Ngaji Ramadan MWC NU Tahunan, 7 larangan anggota badan saat puasa di Kitab Bahjatul Wasail karya Syaikh Nawawi Al Bantaniy.

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Tahunan dan Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara kembali menyelenggarakan kegiatan Ngaji Bareng di Musholla Kecamatan Tahunan Jepara pada Rabu, 5 Maret 2025. Ini merupakan Ramadan ketiga diselenggarakannya Ngaji Bareng.

Ngaji Bareng di Bulan Ramadan ini didahului dengan shalat dzuhur berjamaah dan dilanjutkan kajian fiqih puasa oleh Kiai Muhammad Rosif Arwani yang membedah kitab Bahjatul Wasail karya Syaikh Nawawi Al Bantaniy.

Hadir dalam kajian pertama ini antara lain: Camat Tahunan Nuril Abdullah, S.STP, MM, Danramil/ 11 Tahunan Lettu inf Edi Sulistiyono, SH dan Kapolsek Tahunan AKP Ginyono serta puluhan staf dan anggota.

LIHAT JUGA :  Latihan Kader Utama PC IPNU-IPPNU Jepara: Urgensi Memahami Peta Gerakan Islam di Indonesia

Camat Tahunan Nuril Abdullah mengatakan Bulan Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk memperbaiki diri, instropeksi diri dan memperkuat pemahaman tentang agama.

“Kami, Forkopimcam Tahunan bersama MWC NU Tahunan mengadakan Sholat Dzuhur berjamaah dan Ngaji Bareng di Musholla Kecamatan Tahunan, di samping untuk menambah ilmu, kegiatan ini juga sarana mempererat silaturahim antara ulama dan umaro yang sangat dibutuhkan dalam membangun Kecamatan Tahunan khususnya dan Kabupaten Jepara pada umumnya,” ungkap Nuril.

Sementara itu, Kiai Rosif Arwani dalam uraiannya menyebutkan bahwa puasa adalah perintah Allah yang diwajibkan untuk hambanya yang beriman sejak mulai umat terdahulu.

“Hanya saja beda waktu dan lamanya puasa, seperti puasa masa Nabi Nuh AS selama satu tahun ,puasa Nabi Daud AS satu hati berpuasa satu hari berbuka,” lanjut Kiai Rosif.

LIHAT JUGA :  FAKTA Isu Gaji ke-13 dan ke-14 Jatah ASN Hingga TNI/Polri Bakal Dihapus, Menkeu Beri Pernyataan Tegas: Sedang Diproses

“Adapula Nabi yang disyariatkan berpuasa 50 hari dan ada yang satu bulan saja, seperti puasanya Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW,” kata Kiai Rosif.

“Salah satu metode untuk menyempurnakan pahala puasa yang kita jalankan sebagaimana disebutkan dalam Bahjatul Wasail karya Syaikh Nawawi Albantaniy ini adalah menjaga 7 anggota dari kemaksiatan,” lanjut Kiai Rosif, pengasuh pondok pesantren An Nur Mangunan Tahunan Jepara.

“Kita harus bisa menjaga lisan dari ghibah, dusta dan berbohong, menjaga mata dari melihat sesuatu yang diharamkan, menjaga telinga dari mendengar ucapan yg diharamkan , menjaga tangan, menjaga kaki dan menjaga kemaluan,” ujar Katib Syuriyah MWC NU Tahunan.

“Dengan demikian kita bisa mendapat pahala puasa sebagaimana sabda Nabi Muhammad, barang siapa yang berpuasa karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lewat,” pungkas Kiai Rosif.

LIHAT JUGA :  Peserta Mlaku Bareng Membludak, Sekda Jepara Sampaikan Permohonan Maaf