HALO JEPARA- Lesbumi NU Jepara menggelar Suluk Mantingan XI di Kampung Lembah Manah Azharul Hikmah, Rengging, Pecangaan, Jepara akhir pekan lalu. Suluk Mantingan yang mengusung tema “Membangkitkan Spirit Ratu Kalinyamat” ini juga sekaligus menjadi ajang diskusi budaya “menyambungkan” Ratu Kalinyamat, visi maritim Jepara dan wacana pembangunan pelabuhan internasional di Balong Jepara.
Acara diawali dengan pagelaran Wayang Santri oleh Dalang Ki Sugiarto dengan lakon “Ratu Ing Jungpara”, diiringi oleh Karawitan Among Jiwo dari SMKN 1 Kedung Jepara.
Ketua PC Lesbumi NU Jepara, Ngateman, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam acara ini.
“Suluk Mantingan XI adalah bagian dari gerakan kebudayaan yang harus terus kita dukung bersama demi kelestarian budaya lokal,” katanya.
Berbeda dari edisi sebelumnya, Suluk Mantingan XI dimulai dengan pementasan Wayang Santri, dilanjutkan dengan Mauidhoh Hasanah dari Ki Sholeh, serta buka bersama.
Rangkaian acara berlanjut dengan salat Tarawih dan pembacaan tembang Aqoid Seket. Sebelum sesi diskusi utama mengenai Spirit Ratu Kalinyamat dimulai, Dalang Ki Sugiarto menyelesaikan lakon wayang yang telah dimulai sebelumnya.
Melalui kegiatan ini, PC Lesbumi NU Jepara berharap semakin banyak elemen masyarakat yang terlibat dalam upaya menggali dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal.
“Semoga Suluk Mantingan terus menjadi wadah refleksi sejarah dan kebudayaan bagi Jepara dan generasi penerusnya,” harap Ngateman melalui keterangan tertulis, Senin (17/3/2025).
Tuan rumah kegiatan, Nur Hidayat saat sesi pemantik Suluk Mantingan XI, mengulas tentang Ratu Kalinyamat sebagai santri Walisongo yang lahir dari keluarga Keraton Demak.
Menurutnya, relasi kemanusiaan dan ketauhidan dalam kepemimpinan Ratu Kalinyamat masih relevan dijadikan patokan dalam berbagai sektor kehidupan.
“Bisa menjadi contoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jepara ini.
Sementara itu, akademisi dari Pusat Kajian Ratu Kalinyamat UNISNU Jepara, Murniati menegaskan pentingnya menjadikan kebesaran Ratu Kalinyamat sebagai memori kolektif masyarakat Indonesia, khususnya Jepara.
“Generasi Z membutuhkan sosok teladan yang memiliki pemikiran visioner melampaui zamannya,” ujarnya.
Perwakilan PC Lesbumi NU Jepara, Ali Burhan menekankan pentingnya menyelaraskan diskusi dengan visi kebudayaan Lesbumi. Menurutnya pembangunan wacana independen dalam memaknai kearifan lokal serta penguatan budaya maritim Nusantara menjadi bagian dari Saptawikrama Lesbumi yang mendasari kajian tentang Ratu Kalinyamat.
“Keselarasan narasi sejarah Majapahit, Demak, hingga Jepara harus terus disosialisasikan sebagai landasan pembangunan visi maritim Jepara hari ini,” tandasnya.
Wakil Ketua Tanfidziyah PC NU Jepara, KH Hisyam Zamroni mengapresiasi kegiatan Suluk Mantingan XI ini. Menurutnya tema yang diangkat juga aktual dan relevan dengan kondisi saat ini.
Terlebih, saat ini Pemkab Jepara berencana membangun pelabuhan skala internasional di Balong Kecamatan Kembang. Menurutnya, jika direalisasikan hal itu ibarat mengangkat lagi kejayaan maritim Jepara era Ratu Kalinyamat.
“Kebesaran Jepara di masa lalu harus menjadi inspirasi bagi pembangunan daerah. ]Wacana pengembangan pelabuhan internasional itu positif untuk kemajuan Jepara,” ujarnya. (*)












