HALO JEPARA- Jepara adalah salah satu wilayah maritim yang fenomenal sejak ribuan tahun lalu. Pada tahun 322 SM pelancong dari Kota Mourya Ashoka India; yaitu Ajisaka mendarat di Jepara.
Jepara menjadi tempat berlabuh kapal Ajisaka atas dasar dan petunjuk adanya Gunung Mahameru yang tertinggi di Pulau Jawa. Setelah Ajisaka mendarat di Jepara, dia mengubah nama Gunung Mahameru menjadi Mourya, Ibu Kota Kerajaan Ashoka. Ia menjadikan itu sebagai hadiah yang dipersembahkan kepada Raja Ashoka India. (C.W. Leadbeater; 1979)
Seiring perjalanan waktu yang terus membentang, Jepara terus berkembang. Saat dipimpin oleh Ratu Shima dengan Kerajaan Ho -ling atau Kalingga, Jepara menjadi tempat transit dan lintasan perdagangan dari manca negara bahkan tercatat sampai ke daratan China, Timur tengah, Eropa dan India.
Bahkan saat dipimpin Pate Unus, Ratu Kalinyamat dan kekuasaan Mataram Islam, Jepara menjadi area lintas perdagangan yang besar dan ramai hingga ahirnya sekitar tahun 1770 M Penjajah Belanda memindah Bandar Pelabuhan Jepara ke Semarang.
Setelah Bandar Pelabuhan Jepara dipindah oleh Penjajah Belanda ke Semarang, Jepara menerima kenyataan pahit, karena menjadi wilayah yang “terisolir” walaupun masih tetap memiliki produk produk yang diminati oleh manca negara seperti kerajinan ukir, kain tenun troso dan lainny.
Dari kondisi di atas, muncul ide brilian Bupati baru Jepara Witiarso Utomo (akrab disapa Mas Wiwit) yang ingin membuka “ingatan sejarah” kebesaran Bandar Pelabuhan Jepara yang menjadi transit dan “jalan sutra” perdagangan dunia.

Bandar Pelabuhan Jepara; Jalur Sutra Perdagangan Dunia
Berawal dari catatan Fa Hien (412), seorang pelancong dari China yang mencatat tentang kedatangan pelancong dan pedagang dari bangsa Arya tahun 322 SM yaitu Ajisaka ke Nusantara melalui Bandar Pelabuhan Jepara yang melihat Gunung tertinggi dan terbesar di Jawa yaitu Gunung Mahameru. Ajikasa lantas mengubah namanya menjadi Gunung Mourya.
Berdasarkan catatan China bahwa Gunung Mourya adalah gunung yang aktif. Saat erupsi semburannya bisa memancar hingga wilayah Grobogan -sekarang disebut Bledug Kuwu-. Bahkan karena saking tingginya semburan itu sehingga para pelaut dapat melihatnya. (C.W. Leadbester; 1979 & Rashad Herman; 2012).
Para pelancong dan pedagang China mencatat bahwa Jepara pada abad ke 5 M telah memiliki kerajaan besar dan maju dalam perdagangan dengan bandar pelabuhan skala internasional yaitu Kerajaan Holing atau Kalingga yang dipimpin oleh Ratu Shima. (Hamka; 2016).
Ratu Shima membuka jalur perdagangan maritim yang sangat luas yaitu lintas negara dan bangsa; baik ke China, India, Afrika bahkan Timur Tengah melalui Bandar Pelabuhan yang besar dan kuat.
Pada tahun 1368 M, masa Dinasti Ming, China mengirimkan para pekerja profesional/ahli ke Nusantara melalui bandar-bandar pelabuhan besar seperti; Sambas, Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Lasem, Tuban, Gresik, Surabaya dan Jepara.
Khusus bagi mereka orang orang China yang ahli membuat Kapal Layar (Jung), pertukangan dan mengukir diturunkan di Jepara. Dari sini kita tahu bahwa sejarah Ukir di Jepara adalah berasal dari China yang diinisiasi para ahli pertukangan dan ukir yang dikirim oleh Dinasti Ming tahun 1368 M. (Rashad Herman; 2012).
Pada tahun 1500-an M, pelancong Eropa seperti halnya Tome Pires mencatat bahwa ada dua kerajaan di wilyah Jepara yaitu Kerajaan Tidunan yang dipimpin oleh Pate Orob dan Kerajaan Jepara yang dipimpin oleh Pate Unus yang memiliki bandar pelabuhan besar untuk transit dan perdagangan antar negara.
Dalam catatan Tome Pires, Pate Unus adalah saudara ipar Pate Rodim Raja Kerajaan Demak. Bahkan Kerajaan Demak pun – karena posisi kerajaan di pedalaman- jika akan mengekspor hasil buminya seperti beras, rempah rempah, dan lainnya ke manca negara harus meminta izin kepada Kerajaan Jepara melalui Bandar Pelabuhan Jepara.
Jadi, Demak dan Jepara pada masa itu adalah dua kerajaan besar yang sejajar. Demak tidak memiliki bandar pelabuhan yang besar.
Pate Unus tercatat juga memiliki visi perdagangan yang maju dengan menjalin kerjasama perdagangan dengan kerajaan dan negara lain seperti kerjasama dengan Aceh, Sumatera, Palembang, Kalimantan, Malaka, Gujarat, Timur Tengah, China dan lainnya.
Oleh karena itu, saat Portugis menguasai Malaka, yang dianggap akan mengganggu perdagangan Nusantara, maka Pate Unus menyerang Portugis di Malaka sebanyak dua kali yaitu tahun 1513 M dan 1521M. (Tome Pires; 2018).
Pada fase berikutnya, Jepara memiliki pemimpin perempuan yang sangat kaya, cerdas dan kuat yaitu Ratu Kalinyamat. Diago de Couto pelancong Portugis- mencatat, Kerajaan Jepara dipimpin oleh Ratu Kalinyamat yang memiliki kekayaan, kekuatan dan bandar pelabuhan yang besar.
Jepara menjadi salah satu ikon dan pintu gerbang perdagangan yang sangat luas dari Aceh, Sumatera, Jawa, Malaka dan wilayah timur Hitu bahkan sampai manca negara.
Perdagangan Kerajaan Jepara tidak hanya pada penjualan beras, rempah rempah tapi juga merambah pada produk produk kerajinan seperti ukiran, gerabah, keramik dan lain lain, sehingga Jepara menjadi sentra perdagangan dunia yang diperhitungkan, yang tidak hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri.
Olehnya, alasan kuat yang substansial dan sekaligus ide cemerlang serta cerdas Ratu Kalinyamat saat menyerang Portugis di Malaka adalah menyelamatkan Jalur Sutra Perdagangan Nusantara dari para penjajah Eropa. Saat itu, kolonialisme memang ingin menguasai Jalur Perdagangan Nusantara.
Oleh Couto, Ratu Kalinyamat disebut; Rainha de Jepara, Senhora Paderosa e Rica ( Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa). Dari itu pula, menjadi alasan Ratu Kalinyamat layak dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional. (Couto; 1558)
Penjajah Belanda -pada tahun 1780 M- memiliki andil besar dalam kemunduran Jepara yaitu memindahkan Bandar Pelabuhan Jepara ke Semarang. Setelah Penjajah Belanda memindah Bandar Pelabuhan Jepara ke Semarang, Jepara tidak lagi menjadi ikon perdagangan dunia secara mandiri.
Dampak turunannya Jepara menjadi kota yang “terpinggirkan dan terisolir”, walaupun produk produk hasil kerajinan Jepara terlebih meubel ukiran masih mendunia. ( M.C. Ricklefs; 2008)
Menyambut Gagasan Menghidupkan Kembali Bandar Pelabuhan Jepara
Dari keterangan di atas, jika mengikuti pendapat Mc. Luhan tentang “Global Village”, maka secara historis, Jepara merupakan kota yang mengglobal. Keglobalan Jepara memiliki akar sejarah yang kuat melalui monumen besar yaitu kepemilikan Bandar Pelabuhan Jepara yang mendunia.
Gagasan Bupati Jepara Mas Wiwit tentang menghidupkan dan membangun kembali Bandar Pelabuhan Jepara harus didukung bersama sebagai upaya meneruskan dan membuka jalur perdagangan Jepara untuk menembus kembali Jalur Sutra Perdagangan yang pernah ada di Jepara. Pertanyaanya adalah; Mungkinkah ini dilakukan? Jawabannya adalah sangat mungkin.
Di era dunia yang sudah “terlipat dan melipat” ini, Jepara membutuhkan terobosan baru untuk memudahkan alur dan proses perdagangan yang mandiri dan kompetitif untuk menembus pasar dunia. Terlebih, posisi strategis lautan Jepara yang menjadi lalu lintas kapal-kapal besar akan menjadi modal dasar menghidupkan dan membangun kembali Bandar Pelabuhan Jepara.
Bentang jalur perdagangan Aceh, Sumatera, Bangka Belitung, Kalimantan, Sulawesi, Surabaya, Bawean, Bali bahkan jalur perdagangan ke luar negeri melalui Jepara akan menjadi sangat strategis. Jika Bandar Pelabuhan Jepara sudah dibangun, bisa jadi akan mengancam keberadaan Bandar Pelabuhan Semarang (Pelabuhan Tanjung Emas) yang sekarang ini sangat rentan dengan “banjir rob” dari laut.
Jika jalan Tol Semarang – Demak – Jepara dapat terealisasi, tidak menutup kemungkinan perdagangan ekspor impor Jawa Tengah akan beralih ke Bandar Pelabuhan Jepara. Terlebih ada jaminan keamanan, kenyamanan dan kemudahan dalam pengiriman dan penerimaan produk ekspor maupun impor melalui Bandar Pelabuhan Jepara.
Jepara memiliki modal dasar yang kuat baik historis maupun sarana prasarana lahan tanah yang luas dan memadai untuk menghidupkan dan membangun kembali Bandar Pelabuhan Jepara. Hanya tinggal satu kata dan keyakinan untuk merealisasikannya yaitu BERGERAK BERSAMA, KITA BISA.
Hisyam Zamroni, Peminat Sejarah, Wakil Ketua PCNU Jepara












