Ramadhan, Pesantren dan Nahdlatul Ulama

Ramadhan, Pesantren dan Nahdlatul Ulama
Ramadhan, Pesantren dan Nahdlatul Ulama

Ramadhan, Pesantren dan Nahdlatul Ulama

Oleh : Dr. M. Kholidul Adib, MSI.
(Ketua LTN PCNU Kota Semarang)

HALO JATENG- Pesantren kilat marak digelar selama bulan suci Ramadhan. Lazimnya kegiatan belajar keagamaan dalam waktu singkat itu diadakan hanya beberapa hari untuk memberikan pembelajaran agama Islam kepada murid di tingkat dasar tentang tata cara baca Al Qur’an, tata cara shalat, dan sebagainya.

Kegiatan semacam ini marak diadakan di berbagai lembaga pendidikan termasuk lembaga pendidikan umum.

Sementara aktivitas pembelajaran di pesantren pada bulan Ramadlan akan lebih banyak diisi dengan kajian kitab kuning dari yang tingkat dasar seperti kitab aqidatul awam, fiqh wadhih, Al jurumiyyah; arbain Nawawi, atau tingkat sedang seperti kitab fathul qorib, Fathul Mu’in, Al imrithi, bulughul marom; atau yang tingkat tinggi seperti kitab mahalli, bidayatul mujtahid, ihya ulumuddin, tafsir jalalain dan lainnya.

Salah satu fakta yang harus kita syukuri adalah minat untuk mempelajari ilmu agama akhir-akhir ini semakin pesat terutama kesadaran dari orang tua untuk mendidik anak-anaknya supaya mau belajar agama.

Pesantren pun kini menjadi harapan bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya apalagi di era digital dan pergaulan yang sudah amat bebas, sedangkan orang tua sibuk bekerja maka dengan membawa anak ke pondok akan membuat anak lebih terkontrol pergaulannya, lebih bisa fokus belajar baik ilmu agama maupun ilmu umum (sekarang sudah banyak pesantren juga memiliki sekolah umum) dan yang lebih penting lagi anak dibekali dengan pendidikan akhlak.

Pendidikan akhlak sangat penting karena siapa sih orang orang tua yang tidak ingin punya anak yang sholeh dan sholehah yang berbakti kepada kedua orang tua? Tentu sudah tepat jika banyak orang tua yang sekarang ini lebih suka membawa anak-anaknya ke pesantren.

Pesantren dan Pendidikan Karakter

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sudah tua di Indonesia. Keberadaannya sudah ada sejak era Walisongo (abad 15/16 M) hingga sekarang masih lestari dan sangat bermanfaat bagi bangsa dan negara Indonesia.

LIHAT JUGA :  DAFTAR SMA Peserta Jepara Innovation Award, Diproyeksikan Genjot Iklim Riset di Kalangan Pelajar

Dalam sejarahnya, pesantren terbukti berhasil melahirkan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan dan kebudayaan.

Pesantren telah berhasil menjadi tempat pembentukan karakter dan intelektualitas santri, serta menjaga tradisi keislaman dan kebangsaan.

Sebagai lembaga pendidikan, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian santri.

Pesantren terbukti berhasil melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan berkepribadian di tengah tantangan zaman modern yang semakin kompetitif.

Ketika Belanda menjajah Nusantara (abad 17-20 M) dan pada awal abad 20 M menerapkan sistem pendidikan formal ala Eropa, namun pesantren masih tetap eksis dan terus berkembang hingga sekarang.

Pesantren dan Pejuang Bangsa

Sebagai lembaga pendidikan keagamaan pesantren terbukti telah sukses melahirkan banyak pejuang kemerdekaan.

Banyak pahlawan nasional di Indonesia lahir dari pesantren seperti KH Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH Wahid Hasyim dan lainnya.

Dari kalangan pesantren dan juga pernah lahir Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mewariskan semangat perjuangan demokrasi dan pluralisme di Indonesia.

Pesantren sebagai Sub-Kultur NU

Pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki hubungan yang sangat erat. NU merupakan organisasi keagamaan yang lahir tahun 1926 dari tradisi pesantren dan terus menjaga serta mengembangkan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.

Menurut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pesantren adalah sub-kultur NU dan merupakan basis utama NU dalam melahirkan nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan.

NU didirikan oleh para ulama pesantren seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah dan para ulama pesantren lainnya pada 31 Januari 1926 di Surabaya untuk mewadahi ulama pesantren dalam mempertahankan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

KH Hasyim Asy’ari, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, adalah pendiri sekaligus Rais Akbar pertama Nahdlatul Ulama (NU).

Ramadhan, Pesantren dan Nahdlatul Ulama
Ramadhan, Pesantren dan Nahdlatul Ulama

Gerakan NU yang berakar dari Pesantren Tebuireng, dipicu kebutuhan melawan penjajahan dan membentengi tradisi Islam Nusantara.

LIHAT JUGA :  Lebaran 2025 Diprediksi Senin 31 Maret, Ini Alasan NU, Muhammadiyah dan Pemerintah Bakal Kompak

KH Hasyim Asy’ari, adalah ulama kondang yang dikenal sebagai ahli hadits dan guru para ulama.

Pendirian NU dilakukan setelah KH Hasyim Asy’ari melakukan shalat istikharah dan mendapat isyarat dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan.

NU berdiri sebagai respons terhadap modernisasi yang mengancam tradisi lokal dan arus Islam transnasional.

Adapun yang gigih sebagai inisiator gerakan ini adalah KH Wahab Hasbullah yang sejak awal berperan besar dalam memprakarsai berdirinya NU untuk kepentingan kaum pesantren dan bangsa Indonesia.

KH Hasyim Asy’ari juga merumuskan Qanun Asasi (kitab landasan dasar) dan kitab I’tikad Ahlussunah Wal Jamah sebagai pegangan organisasi. KH Hasyim Asy’ari mengajak santri melawan penjajah dengan hukum fardlu ‘ain (wajib bagi tiap Muslim), membidani lahirnya Laskar Hizbullah dan Sabilillah, dan memimpin perang 10 November 1945 di Surabaya.

Dalam berdakwah KH Hasyim Asy’ari mengedepankan toleransi, moderasi, dan kesatuan umat (ta’alluf) untuk menghadapi tantangan zaman.

NU kemudian tampil sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia terbesar dengan 100 juta simpatisan baik di dalam maupun di luar negeri yang berfokus pada pendidikan, sosial, dan keagamaan.

KH. Hasyim Asy’ari menjadi Rais Akbar NU selama 21 tahun (1926 – 1947). Setelah KH Hasyim Asy’ari wafat posisinya digantikan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah. Namun KH Abdul Wahab Hasbullah tidak bersedia menggunakan sebutan Rais Akbar (jabatan ini hanya khusus untuk KH Hasyim Asy’ari), maka KH Abdul Wahab Hasbullah menggunakan istilah Rais Aam sebagai bentuk ta’dzim beliau kepada KH Hasyim Asy’ari.

KH Abdul Wahab Hasbullah adalah ulama penggerak (muharrik) dan pelopor utama pendirian Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926 bersama KH Hasyim Asy’ari.

Sebelum mendirikan NU, KH Abdul Wahab Hasbullah mendirikan berbagai lembaga perintis seperti Tashwirul Afkar (1914), Nahdlatul Wathan (1916), serta Komite Hijaz, yang menjadi cikal bakal NU.

LIHAT JUGA :  Ini Progres Sekolah Rakyat di Jepara, Groundbreaking Dijadwalkan Oktober 2025

KH Abdul Wahab Hasbullah dikenal sebagai arsitek struktur organisasi NU dengan sistem Syuriyah dan Tanfiziyah.

Peran KH Abdul Wahab Hasbullah dalam NU sangat besar. Beliau adalah konseptor struktur NU dengan mencetuskan sistem kepemimpinan Syuriyah (Dewan Ulama) dan Tanfiziyah (Dewan Pelaksana) untuk menyatukan kalangan tua dan muda.

KH Abdul Wahab Hasbullah juga penggerak pemuda NU dengan mendirikan Syubbanul Wathon pada 1924 yang kemudian menjadi cikal bakal Gerakan Pemuda Ansor.

KH Abdul Wahab Hasbullah menjabat Khatib ‘Aam PBNU dan kemudian menjadi Rais Aam PBNU.

Bersama KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah juga terlibat dalam merumuskan fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang memicu perang 10 November 1945 di Surabaya.

KH Abdul Wahab Hasbullah juga dikenal sebagai sosok ulama modern, nasionalis, dan toleran yang aktif menjalin silaturahim dengan berbagai kalangan di penjuru Nusantara untuk mendirikan NU.

Tokoh penting berikutnya yang lahir dari rahim pesantren dan NU adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang lahir dari rahim pesantren dan NU.

Gus Dur menjabat Ketua Umum PBNU tahun 1984 – 1999 dan terpilih sebagai Presiden RI keempat dalam Sidang Umum MPR tahun 1998 terbukti mampu menjadi pemimpin yang bisa diterima banyak pihak dan konsisten menjaga NKRI. (*)