Ini Ciri Khas Kepemimpinan dalam Tradisi NU, Ada Akhlak dan Pengabdian
HALO JEPARA– Tegas. Inspiratif. Menggerakkan. Begitulah pesan yang disampaikan KH Miftah Faqih, pengurus Bidang OKK PBNU, dalam materi Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) yang digelar di Jepara, Jumat (7/11/2025).
Dalam paparannya, Kiai Miftah Faqih menekankan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya soal posisi, tetapi tentang kemampuan mengarahkan dan memberi teladan.
“Pemimpin itu bukan sekadar memiliki jabatan, tetapi harus bisa telling, showing, guiding, dan teaching,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia menambahkan, empat peran tersebut berarti pemimpin harus mampu menyampaikan arah (telling), menunjukkan contoh (showing), mengarahkan jalan (guiding), dan mengajarkan nilai (teaching).
Menurutnya, dari empat dimensi itu, kepemimpinan bukan tentang kehendak pribadi, melainkan kebutuhan bersama.
“Pemimpin itu bukan lagi wants, tetapi needs. Keberadaannya harus dibutuhkan oleh umat,” tuturnya.
Lebih lanjut, Kiai Miftah juga menampilkan konsep “6 Langkah Pemimpin Efektif” yang meliputi:
*Memiliki visi dengan menetapkan arah dan tujuan,
*Membangun tim melalui pemilihan dan pengembangan orang,
*Berkomunikasi secara efektif dengan menyampaikan gagasan yang jelas,
*Memotivasi anggota untuk terus bersemangat,
*Menjadi teladan dengan memberikan contoh yang baik,
*Membuat keputusan dengan penuh tanggung jawab.
Dalam sesi tersebut, ia juga menggunakan ilustrasi pemimpin sebagai jembatan. Melalui perumpamaan itu, Kiai Miftah menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus mampu menjadi penghubung antara berbagai pihak, bukan sekadar berdiri di atas mereka.
“Pemimpin itu seperti jembatan, menghubungkan dua tepi yang berbeda agar semua bisa melangkah bersama menuju tujuan yang sama,” katanya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan dalam tradisi Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal struktur, melainkan soal akhlak dan pengabdian. (*)












