1000 Warga Bantrung Batealit Kirab Bendera Merah Putih 1000 Meter, Meriahkan HUT RI ke-80
HALO JEPARA– Sebanyak 1000 warga Desa Bantrung, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara mengarak bendera Merah Putih sepanjang 1000 meter, Minggu (10/8/2025).
Selain memeriahkan HUT RI ke-80, kirab bendera merah putih 1000 meter ini juga menjadi momentum merekatkan hubungan sosial antarelemen masyarakat di Desa Bantrung.
Bendera Merah Putih ukuran panjang 1000 meter X 160 meter itu, menghubungkan Punden Sumo Wijoyo hingga Balai Desa Bantrung.
Kegiatan ini menjadi salah satu momen puncak dalam rangkaian Bantrung Culture Festival Season 4 tahun 2025, yang berlangsung 27 Juli hingga 14 Agustus.
Festival ini bukan acara biasa. Sejak akhir Juli, masyarakat desa larut dalam berbagai agenda: turnamen bola voli (27 Juli–3 Agustus), senam dan jalan sehat yang berlanjut dengan pencanangan sedekah bumi (3 Agustus), kirab desa (10 Agustus) yang malamnya diwarnai Festival Sejuta Jagung.
Lalu Festival Orkes Jadul (11 Agustus), hingga ziarah ke makam leluhur dan kendurian (12 Agustus). Semua berpuncak pada pagelaran wayang kulit dan penyembelihan kerbau(13 Agustus), lalu ketoprak sebagai penutup (14 Agustus).
Namun, tahun ini ada yang mencuri perhatian. Bendera Merah Putih raksasa dibentangkan oleh warga, dibantu aparat, tokoh, dan relawan.
Ketua DPRD Kabupaten Jepara, Agus Sutisna, dan Komandan Kodim 0719/Jepara hadir langsung membuka acara dan ikut membentang bendera tersebut.
Petinggi Bantrung Nur Sholeh mengatakan kirab bendera Merah Putih 1000 meter ini menempuh rute sejauh 6 kilometer. Menurutnya kegiatan ini bukan hura-hura atau ajang mendatangkan orang, namun lebih dari itu juga momentum untuk mengenang jasa pahlawan dan menguatkan nasionalisme di tingkat desa
“Warga sangat antusias. Kita perkirakan ada lebih dari 1000 warga baik yang kecil, dewasa atau perempuan dan laki-laki yang ikut dalam kirab ini,” ujar Nur Sholeh.
Saat kirab, warga bergandengan tangan, memegang erat kain Merah Putih. Terik mentari tak menyurutkan langkah warga mengarak bendera pusaka ini.
“Ini bukan hanya tentang bendera. Ini tentang kita semua. Tentang semangat gotong royong yang menyatukan,” ujar Agus Sutisna.
Ia memberi apresiasi penuh kepada warga Bantrung yang, dengan kebersamaan, berhasil mewujudkan ide besar ini.
“Semangat seperti inilah yang harus kita pegang erat, seteguh kita memegang Merah Putih ini.”
Di Bantrung, bendera hari itu bukan hanya berkibar. Ia berjalan, diiringi langkah-langkah yang mantap dan wajah-wajah yang bangga. Sebuah pesan sederhana namun kuat: persatuan bukan sekadar kata ia harus dihidupi, bersama-sama.






