Asa dari Lelang Ukir, Goreskan Senyum untuk Kalangan Tak Punya, Ikhtiar Lahirkan Balai Lelang Serupa Christie’s di Jepara

Asa dari Lelang Ukir, Goreskan Senyum untuk Kalangan Tak Punya, Ikhtiar Lahirkan Balai Lelang Serupa Christie’s di Jepara
Asa dari Lelang Ukir, Goreskan Senyum untuk Kalangan Tak Punya, Ikhtiar Lahirkan Balai Lelang Serupa Christie’s di Jepara

Asa dari Lelang Ukir, Goreskan Senyum untuk Kalangan Tak Punya, Ikhtiar Lahirkan Balai Lelang Serupa Christie’s di Jepara

HALO JEPARA-– Galeri Waloeyohadi di Bapangan, Jepara, menjadi saksi sejarah terselenggaranya “Lelang Ukir untuk Amal” yang menggugah semangat budaya, seni, dan kemanusiaan. Kegiatan yang digelar akhir Juli dan diprakarsai oleh Komunitas Ukir Jepara (KUI) bersama Pemerintah Kabupaten Jepara ini didukung penuh oleh Bank Indonesia (BI).

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Perindag Kabupaten Jepara Zamroni Lestiaza, perwakilan BI Jateng Meisara Cahyadi, Suhandono Hadi (seniman nasional), Kus Indarto (kurator nasional), hingga Ikhwan Saefulloh (perwakilan MPR RI).

Ketua Panitia Sutrisno menjelaskan ide acara ini bermula dari kolaborasi Komunitas Ukir dengan BI yang membuka ruang pameran di Paragon Mall Semarang dalam rangka UMKM Gayeng 2025. Hingga akhirnya tercetus gagasan untuk membuat lelang amal yang menonjolkan karya seni ukir sekaligus menebar manfaat sosial.

Bank Indonesia bukan sekadar memberikan ruang pameran, namun juga turut membangun kelembagaan seni ukir Jepara dengan pendekatan budaya dan sosial.

Kepala Disperindag Jepara, Zamroni Lestiaza menyebut kegiatan ini menjadi tonggak sejarah bagi Jepara.

LIHAT JUGA :  Pemkab Ajukan Betonisasi Jalan Jepara-Kelet ke Pusat, Butuh Anggaran Rp 100 Miliar

“Kolaborasi dengan BI memungkinkan terselenggaranya lelang seni publik terbuka pertama di Jepara, bahkan di Jawa Tengah. Harapannya ini bisa berkembang menjadi balai lelang profesional sebagaimana Christie’s yang berdiri sejak 1766,” ungkapnya.

Asa dari Lelang Ukir, Goreskan Senyum untuk Kalangan Tak Punya, Ikhtiar Lahirkan Balai Lelang Serupa Christie’s di Jepara
Asa dari Lelang Ukir, Goreskan Senyum untuk Kalangan Tak Punya, Ikhtiar Lahirkan Balai Lelang Serupa Christie’s di Jepara

Lelang Ukir berhasil menghimpun dana sebesar Rp40.400.000 dari tujuh karya ukir. Karya “Sangkar Bharatayuddha” karya Suhartono Kasari terjual tertinggi, yakni Rp28 juta kepada Veronica dari Pekalongan. Karya ini menyimbolkan filosofi antara kemegahan dan keterbatasan dalam kehidupan.

Sutrisno menyampaikan dana hasil lelang dialokasikan untuk tiga kegiatan sosial yakni wakaf sumur bor di Blora, wakaf tanah makam Ancarsari di Tendoksari, dan santunan anak-anak yatim melalui komunitas Surya Bhakti ’91.

Sebagian hasil juga dikembalikan ke seniman sebagai bentuk apresiasi terhadap karya mereka.

Seniman nasional Suhandono Hadi yang merupakan adik dari Waloeyohadi (pematung Kartini Jepara) termasuk salah satu yang memeriahkan lelang ukir ini.

Suhandono merupakan seniman yang telah berkarya puluhan tahun. Karyanya bahkan pernah ditawar salah satu calon presiden.

Karya Suhandono Hadi yang ikut ditampilkan di lelang ukir ini berjudul “Dzikir Semesta”. Karya ini belum terjual. Nilainya ditaksir sebanding dengan harga sebuah mobil baru.

LIHAT JUGA :  14.463 Lulusan SMA/Jepara Menganggur, Separo Lebih dari Jumlah Pengangguran di Kota Ukir

Suhandono menyampaikan rasa terima kasih kepada Meisara Cahyadi dan BI Jateng karena memberi ruang yang selama ini belum pernah ia dapatkan. Ia menilai kehadiran BI adalah titik balik perhatian terhadap seniman Jepara.

“BI bukan hanya memfasilitasi, tetapi membesarkan ruang dan martabat seniman ukir,” ucapnya penuh haru.

Kontributor muda seperti Agus Riyadi turut hadir membawa karya “New Hope” dan “Wave”, yang diborong langsung oleh Meisara Cahyadi.

Lelang ukir ini juga mendapat dukungan dari Ikhwan Saefulloh yang mewakili Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Ia menyampaikan komitmen terhadap dunia ukir Jepara. Salah satunya lewat 1000 beasiswa bagi para pengukir.

“Semoga pengukir dapat terus berkarya dan mengembangkan keahlian mereka secara berkelanjutan,” jelasnya.

Kurator nasional Kus Indarto memberi catatan penting terkait lelang ukir ini. Ia menegaskan pentingnya membangun sistem balai lelang seni di Indonesia.

“Seperti Tiongkok dengan ribuan museumnya, Indonesia harus mulai dengan membangun infrastruktur budaya dari komunitas,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa seniman bukan hanya produsen keindahan, tetapi penanam nilai-nilai luhur dalam setiap karya. Ia menyitir Global Paradox karya John Naisbitt untuk menegaskan bahwa di tengah arus globalisasi, identitas lokal seperti seni ukir menjadi jangkar utama nilai dan etika.

LIHAT JUGA :  Pegawai Non-ASN Tuntut Kejelasan Nasib, Pemkab Jepara Siapkan Skema PPPK Paruh Waktu

Acara lelang dilangsungkan secara hybrid, memungkinkan partisipasi dari luar daerah melalui siaran langsung di YouTube. Hal ini menjadi indikasi keterbukaan dan inovasi digital yang menyatu dalam praktik budaya tradisional.

Semua hasil lelang diumumkan terbuka dan akan dikelola secara akuntabel. Nama-nama seperti Hendra Sasmita, Rengganis, Veronica, dan Meysara Cahyadi tercatat sebagai pembeli utama yang bukan hanya membeli, tetapi juga mendukung keberlangsungan budaya ukir.

Karya seperti “Putri Malu”, “Kasih Sayang Ibu”, dan “Niat Bagus” laku terjual dengan cerita emosional masing-masing.

Akhir acara ditutup dengan doa bersama dan penyerahan simbolis dana amal. Komunitas Ukir Jepara berharap acara ini bisa menjadi agenda tahunan.

Dari kayu ukir yang diam, muncul suara-suara harapan: air untuk dahaga, tanah untuk yang wafat, dan senyum untuk anak-anak yatim. (*)