Jepara 476 Tahun: Refleksi dan Rebranding Kota Kreatif nan Religius

Jepara 476 Tahun: Refleksi dan Rebranding Kota Kreatif dan Religius (Foto Ist)
Jepara 476 Tahun: Refleksi dan Rebranding Kota Kreatif dan Religius (Foto Ist)

HALO JEPARA- Bunyi candra sengkala Trus Karya Tataning Bumi bukan sekadar simbol kelahiran Jepara pada 1549, melainkan penanda spiritual dan sosiopolitik yang sarat makna.

Ia menjadi gema peradaban yang melahirkan Jepara sebagai kota metropolis maritim sejak abad ke-13, baik sebagai pusat pelabuhan, perdagangan, dan penyebaran Islam yang berpadu dalam dinamika sejarah Nusantara.

Di titik ini, Jepara tidak sekadar lahir, tetapi dipahat dalam sejarah sebagai poros kemajuan dan keberagaman.

Tak banyak kota yang memiliki fondasi historis sekuat Jepara. Sejak era Ratu Kalinyamat, Jepara menjadi mercusuar kekuatan perempuan, jihad maritim, dan pusat pertukaran budaya.

Peringatan hari jadi ke-476 pada 10 April ini bukan hanya agenda seremonial, tetapi seharusnya menjadi refleksi mendalam untuk menata masa depan yang berpijak pada akar sejarah dan identitas spiritual.

Di balik keramaian perayaan dan pembangunan fisik, kita perlu menyelami ulang jati diri Jepara. Di sinilah nilai-nilai Islam yang ramah, seni yang luhur, dan semangat gotong royong masyarakat tumbuh bersama.

Ukiran kayu Jepara yang mendunia adalah bukti konkret dari peradaban yang berbasis keindahan, keuletan, dan keimanan. Kini, semua itu sedang menghadapi tantangan yang serius.

Seni ukir yang dulunya menjadi identitas global Jepara kini meredup tergerus zaman. Generasi muda lebih tertarik menjadi buruh pabrik ketimbang meneruskan keahlian turun-temurun di sentra ukir.

LIHAT JUGA :  Ary Bachtiar Resmi Jabat Sekda, Sridana Diplot Kepala BKPSDM Jepara

Padahal, dari pahatan kayu yang rumit dan presisi itulah Jepara dikenal hingga ke mancanegara. Jika ini terus dibiarkan, maka Jepara sedang kehilangan “roh”-nya.

Jepara 476 Tahun: Refleksi dan Rebranding Kota Kreatif dan Religius (Foto @pintu.gebyokukir)
Jepara 476 Tahun: Refleksi dan Rebranding Kota Kreatif dan Religius (Foto @pintu.gebyokukir)

Selain ukiran, ada pula kain tenun Troso, kerajinan logam monel, dan gerabah keramik yang masih bertahan di kawasan Jepara bagian Selatan.

Produk-produk ini menunjukkan bahwa masyarakat Jepara memiliki DNA kreatif yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun, keberlanjutannya tak bisa dilepaskan dari perlindungan negara dan keberpihakan kebijakan daerah yang serius terhadap ekonomi kreatif.

Penguatan sektor ekonomi kreatif menjadi kunci penting dalam menjaga eksistensi budaya Jepara. Apalagi di tengah gelombang industrialisasi yang masif, ekonomi kreatif adalah benteng terakhir identitas daerah.

Jepara bisa belajar dari kota-kota dunia yang berhasil mengombinasikan warisan budaya dan pariwisata berbasis lokalitas menjadi kekuatan ekonomi baru.

Maka, menjadikan Jepara sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Jawa adalah langkah strategis yang harus dikawal dengan visi jangka panjang.

Butuh kurasi narasi, penguatan ekosistem kreatif, kolaborasi komunitas, serta promosi yang menyentuh pasar domestik dan mancanegara.

Semua itu harus dibingkai dalam kesadaran kolektif bahwa budaya bukan sekadar tontonan, tetapi jantung kehidupan.

Tagline Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius (Mulus) adalah orientasi mulia, tetapi tidak bisa berhenti pada slogan. Di lapangan, wajah Jepara mulai terdegradasi oleh maraknya pabrik dan limpahan urbanisasi buruh dari luar daerah.

Ini menjadi tantangan serius karena secara sosiologis, struktur masyarakat mulai bergeser dari komunitas kerajinan menjadi komunitas industrial.

LIHAT JUGA :  Jepara Menanam Terus Menyebar, di Tendoksari Tahunan NU Care Hijau Bagikan 1.350 Bibit Buah dan Sayur

Jika tidak disikapi secara cermat, urbanisasi ini bukan hanya menggerus identitas Jepara sebagai sentra seni dan budaya, tetapi juga mengancam religiusitas masyarakat.

Budaya lokal yang semula berakar pada kearifan Islam dan nilai-nilai gotong royong kini mulai terkikis oleh gaya hidup instan dan homogenisasi budaya perkotaan.

Realitas yang dialami Jepara hari ini merupakan pertarungan antara “kebudayaan profetik” dengan “mekanisme kapitalistik”.

Kesalehan sosial dan lingkungan yang dulu menjadi ruh masyarakat Jepara perlahan tergantikan oleh rasionalitas pasar yang kering makna. Maka, revitalisasi spiritualitas dan budaya menjadi agenda besar ke depan.

Salah satu bentuk konkret dari kesalehan sosial adalah pelestarian lingkungan dan budaya lokal.

Lestarinya seni ukir, tenun, logam, dan keramik bukan sekadar pelestarian benda mati, tetapi bagian dari hablum minal alam, relasi suci antara manusia dan ciptaan Tuhan. Lingkungan yang lestari adalah perpanjangan dari iman yang hidup.

Kesalehan lingkungan juga menuntut kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan. Industri yang dibangun di Jepara semestinya tidak mengorbankan sumber daya lokal dan ekosistem sosial.

Harus ada audit budaya dan lingkungan sebelum izin industri diberikan, agar pembangunan tidak menjadi bumerang yang menghancurkan warisan leluhur.

Perda Nomor 7 tahun 2023 tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren, setidaknya menjadi pijakan agar kebijakan menjaga identitas Jepara religius mesti dilakukan secara sistematis dan terukur.

LIHAT JUGA :  MEMBANGGAKAN, Tumbler Kayu Buatan Warga Jepara Jadi Suvenir HUT ke-79 RI di IKN

Pemerintah daerah bersama tokoh agama, akademisi, seniman, dan pengusaha harus merumuskan grand design Jepara sebagai kota kreatif berbasis warisan budaya.

Grand design ini harus berlandaskan pada integrasi antara nilai religius, potensi ekonomi, dan pelestarian lingkungan yang menyatu dalam harmoni kebijakan.

Kampanye cinta produk lokal, pembinaan pelaku UMKM kreatif, festival budaya tahunan, dan pendidikan seni di sekolah adalah beberapa langkah strategis yang harus diprioritaskan.

Semua pihak harus diajak untuk re-branding Jepara sebagai kota warisan yang berjiwa muda dan terbuka terhadap inovasi.

Hari jadi ke-476 adalah momentum emas untuk memulai gerakan kultural baru di Jepara. Gerakan yang tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi membangun masa depan dengan fondasi identitas lokal yang kuat. Jepara harus menjadi inspirasi bahwa kota kecil pun bisa menjadi besar, asalkan tidak kehilangan jati dirinya.

Maka, Trus Karya Tataning Bumi bukan sekadar bunyi candra sengkala masa lalu, tetapi seruan profetik untuk terus berkarya, menata bumi, dan menjaga langit budaya agar tetap menaungi Jepara dengan keberkahan.

Semoga Jepara tidak hanya bertambah umur, tetapi juga bertambah makna sebagai kota yang makmur, unggul, lestari, dan religius dalam arti yang sebenar-benarnya.

*Dr. Muh Khamdan, Doktor Studi Agama dan Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; LTN NU MWCNU Nalumsari