Belajar dari Mantingan, Revitalisasi Masjid sebagai Pemberdayaan Ekonomi Umat
HALO JEPARA- Kabupaten Jepara memiliki banyak masjid yang tersebar dari desa hingga kawasan perkotaan dan menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Namun, dibalik itu persoalan ekonomi masih dirasakan oleh sebagian warga.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kemiskinan dan keterbatasan akses usaha masih menjadi masalah, terutama di wilayah pesisir dan oedeso. Kondisi ini menunjukkan bahwa masjid yang selama ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat belum sepenuhnya dimanfaat sebagai saamrana pemberdayaan ekonomi umat.
Karena itu, upaya menghidupkan kembali peran masjid menjadi semakin penting di Jepara.
Pada dasarnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga sebagai ruang sosial masyarakat.
Dalam kajian sosiologi, Emile Durkheim menjelaskan bahwa institusi keagamaan berperan memperkuat solidaritas dan kerjasama sosial. Jika peran ini dimaksimalkan, masjid dapat menjadi tempat berkumpulnya gagasan dan kegiatan ekonomi umat.
Di Jepara, dimana banyak warga yang menggantungkan hidup pasa sektor informal dan usaha kecil, masjid memiliki posisi strategis untuk mendukung penguatan ekonomi berbasis kebersamaan.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh para pemikir Islam. Salah satunya yaitu Yusuf Al-Qaradawi, beliau menegaskan bahwa masjid seharusnya berperan aktif dalam menjawab persoalan umat, termasuk persoalan ekonomi.
Ia menekankan agar dana zakat, infaq, dan sedekah tidak hanya dibagikan untuk kebutuhan sesaat, tetapi dikelola secara produktif. Dana tersebut dapat dimanfaatkan sebagai modal usaha, bantuan produktif, atau program pemberdayaan ekonomi yang membantu masyarakat menjadi lebih mandiri.
Kepercayaan jamaah yang tinggi menjadikan masjid memiliki kekuatan sosial yang besar untuk menggerakkan kegiatan ekonomi yang adil dan berkelanjutan.
Di Jepara, Masjid Mantingan menunjukkan bahwa masjid memiliki potensi untuk berperan lebih luas dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Masjid ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah dan situs sejarah, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial yang dekat dengan kehidupan warga sekitarnya.
Kedekatan tersebut membuka peluang bagi masjid untuk dikembangkan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat, misalnya melalui pengelolaan zakat, infaq, dan sedekah secara produktif serta pendampingan kegiatan ekonomi masyarakat. Meski peran ekonomi Masjid Mantingan belum berjalan secara optimal dan terstruktur seperti dibeberapa masjid lain di Indonesia, kepercayaan jamaah dan kuatnya hubungan sosial di sekitarnya menjadi modal penting untuk mendorong penguatan ekonomi lokal di lingkungan masjid.
Bagi Jepara, gagasan revitalisasi masjid menjadi semakin relevan jika dikaitkan dengan data kemiskinan yang masih ada. Meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan Jepara mengalami penurunan, tetapi masih terdapat kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan ekonomi jangka panjang.
Di sisi lain, ratusan masjid yang tersebar hingga pelosok desa merupakan kekuatan sosial yang besar, tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan. Jika masjid mulai mengembangkan koperasi syariah, pelatihan UMKM, pendampingan usaha, serta pengelolaan zakat berbasis pemberdayaan, maka masjid dapat menjadi bagian dari solusi ekonomi lokal.
Revitalisasi masjid di Jepara perlu dipahami sebagai upaya memperluas peran masjid tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagai tempat ibadah. Dengan pengelolaan yang profesional, keterlibatan aktif jamaah, serta dukungan pemerintah daerah dan lembaga zakat, masjid berpotensi menjadi penggerak ekonomi umat.
Langkah ini sejalan dengan nilai-nilai Islam sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat Jepara akan kesejahteraan yang lebih adil.
Harapannya, masjid tidak tidak hanya ramai waktu sholat, tetapi juga hidup sebagai ruang belajar usaha, tempat mengakses permodalan syari’ah, dan pusat solidaritas ekonomi masyarakat.
Ketika masjid mampu menjalankan peran tersebut, maka kontribusinya dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan warga Jepara akan terasa secara nyata. (*)
*Elda Nur Ivana, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisnu Jepara












