Jateng  

Mengenang Mbah Abdul Kadir, Santri Dzurriyah Sunan Kalijaga, “Pendamai” Ontran-ontran Kadilangu dan Sosok Priyayi yang Merakyat

Mengenang Mbah Abdul Kadir, Santri Dzurriyah Sunan Kalijaga, "Pendamai" Ontran-ontran Kadilangu dan Sosok Priyayi yang Merakyat
Mengenang Mbah Abdul Kadir, Santri Dzurriyah Sunan Kalijaga, "Pendamai" Ontran-ontran Kadilangu dan Sosok Priyayi yang Merakyat

HALO JATENG- Mengenang Mbah Abdul Kadir, sosok santri yang berhasil mendamaikan ontran-ontran di Kadilangu. Meski memiliki latar belakang keluarga priyayi, namun Mbah Abdul Kadir lebih memilih menghabiskan hidupnya sebagai rakyat biasa. Meski tanpa embel-embel pangkat dan jabatan, namun aktivitas dakwah Mbah Abdul Kadir berhasil “menghijaukan” kawasan Candisari Mranggen Demak yang saat itu dikenal daerah abangan.

Mbah Abdul Kadir, adalah putera Mbah Raden Sastrohamijoyo, Carik Desa Wonosalam Demak yang memiliki garis keturunan Raden Kusuma keturunan Pangeran Wijil Inthik-Inthik atau Pangeran Wijil III. Sehingga dari silsilah Mbah Abdul Kadir masih dzurriyat Sunan Kalijaga.

Mbah Abdul Kadir kecil sudah menunjukkan talenta sebagai anak yang rajin belajar dan menggemari ilmu terutama ilmu agama. Masa kecil di Wonosalam dihabiskan dengan belajar agama kepada orang tuanya. Di usia jelang remaja hingga pemuda Mbah Abdul Kadir mengenyam pendidikan di pondok pesantren Ngroto Gubug (pesantren milik keluarga pendiri NU, KH Hasyim Asyari). Tholabul ‘ilmi itu dilakukan hingga dipercaya menjadi lurah pondok pesantren Ngroto. Setelah itu juga nyantri di pesantren Girikusumo Banyumeneng Mranggen.

Setelah itu Mbah Abdul Kadir menikah dan berdomisili di Dukuh Gading Desa Candisari Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak. Ia berjuang bersama Mbah Abu Mi’roj mendakwahkan agama Islam di daerah yang semula masih abangan hingga berubah menjadi kampung santri.

Latar Belakang Keluarga

Mbah Abdul Kadir lahir di Wonosalam Demak tahun 1871. Mbah Abdul Kadir adalah putera Raden Sastrohamijoyo, Carik Wonosalam Demak. Masa hidup Sastrohamijoyo sezaman dengan Pangeran Wijil V (Pemimpin Perdikan Kadilangu) yang wafat tahun 1880.

Menurut cerita Eko Wisnu Atmojo, cucu Mbah Abdul Kadir, Raden Sastrohamijoyo masih kerabat sepupu Pangeran Wijil V. Raden Sastrohamijoyo yang diperkirakan lahir kisaran tahun 1810 dan pada saat terjadi perang Diponegoro tahun 1825-1830 beliau sudah remaja.

Raden Sastroamijoyo menikah sebanyak 9 kali (menikah 9 kali tidak dalam satu waktu melainkan ketika ada istri meninggal atau cerai baru menikah lagi). Dari hasil menikah sebanyak 9 kali itu diketahui punya tiga anak.

Anak sulung hidup di Malaysia, anak kedua berdomisili di Batu Karangtengah Demak dan si bungsu Mbah Abdul Kadir kemudian berdomisili di Dukuh Gading Desa Candisari Kecamatan Mranggen.

Mbah Abdul Kadir adalah anak dari istri kedelapan yang berasal dari Desa Ploso Karangtengah (anak lurah Ploso, desa sebelah Wonosalam). Rumah Raden Sastrohamijoyo tinggal tidak jauh dari lokasi sungai Tuntang di Wonosalam yang kala itu mengalirkan air ke arah kawasan Demak Kota.

Raden Sastrohamijoyo sebagaimana umumnya generasi waktu itu dikenal gemar tirakat dan lelaku spiritual. Beliau termasuk yang gemar ilmu. Saat Mbah Abdul Kadir masih kecil ibunya meninggal. Raden Sastrohamijoyo yang usianya sudah menginjak 70-an tahun oleh anak-anaknya dinikahkaan lagi dengan istri yang kesembilan.

Usia Mbah Abdul Kadir sudah mumazziz (di atas usia 7 tahun) oleh ayahnya dititipkan mondok di Ngroto Gubung. Beliau mondok di Ngroto Gubug hampir sepuluh tahun hingga menjadi lurah pondok. Pada usia 20-an tahun boyongan pulang ke rumah. Saat itu Raden Sastrohamijoyo sudah sepuh mendekati usia 80-an tahun.

Namun karena dahaga dengan ilmu hingga akhirnya mengantarkan Mbah Abduk Kadir yang saat itu berusia 20 tahunan ke Girikusumo Mranggen Demak untuk berguru kepada KH Abdul Hadi.

Raden Sastrohamijoyo, wafat sekitar tahun 1890-an dalam usia 80-an tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman tidak jauh dari rumahnya yang berada di tepi Sungai Tuntang di Desa Wonosalam perbatasan dengan Desa Ploso.

Sungai Tuntang merupakan salah satu sungai yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat Demak. Sungai Tuntang berasal dari mata air Gunung Merbabu mengalir di sebelah selatan Gunung Ungaran menuju ke Demak dan bermuara di Laut Jawa.

LIHAT JUGA :  500 Rumah Warga Miskin Ekstrem di Jateng Bakal Direnovasi

Sungai Tuntang dahulu memiliki lebar 30 meter yang dapat dilewati oleh kapal-kapal dagang besar dari seluruh penjuru dunia. Pada zaman kolonial Belanda, Sungai Tuntang sering meluap, sehingga wilayah perkotaan Demak di kawasan Pendopo Bupati Demak sering kebanjiran.

Karenanya, dibangunlah tanggul di daerah Ploso, Kecamatan Wonosalam, sehingga aliran Sungai Tuntang membelok ke Kecamatan Bonang melalui Kalikondang, kemudian dialirkan ke laut. Dengan memindahkan aliran tersebut, sekarang Kota Demak tidak pernah banjir lagi.

Lokasi makam Raden Sastrohamijoyo yang semula di dekat Sungai Tuntang ikut terkena dampak proyek Pemerintah Hindia Belanda yang membuat jalur Sungai Tuntang Baru yang lurus ke arah Kalikondang dan Bonang.

Sungai Tuntang yang ada di sepanjang perkotaan Demak dinamakan “Kali Tuntang Lama” karena alirannya mati dan terjadi sedimentasi. Sungai itu akhirnya menjadi daratan dan hanya tersisa 6-7 meter yang saat ini digunakan sebagai aliran drainase dari warga sekitar.

Cerita yang berkembang di keluarga, menurut Eko Wisnu Atmojo, pada saat pencangkulan tanah untuk membuat jalur sodetan Sungai Tuntang Baru yang nyangkul terasa sakit-sakitan dan kemudian didatangkan seorang ahli spiritual untuk melakukan “penerawangaan dan kontak batin”.

Hasilnya yang bersangkutan melihat sosok laki-laki tua namanya Eyang Raden Sastrohamijoyo berpakaian Jawa sedang duduk menghadap arah barat di pinggang belakang ada keris sambil memegang tasbih seolah sedang berzikir, kemudian memberi isyarat agar yang mengambil tanah sengker adalah ahli warisnya atau keluarganya yaitu Abdul Kadir.

Setelah itu diiring dan dimakamkan ulang di makam umum Wonosalam dan diberi tetenger oleh orang Belanda berupa batu namun tetengernya sumingkir alias tidak mau diberi tetenger. Lokasi makam yang disengker itu berada di sekitar pojok timur laut pemakaman umum Wonosalam yang sekarang persis di sebelah jalan tol.

Mengenang Mbah Abdul Kadir, Santri Dzurriyah Sunan Kalijaga, "Pendamai" Ontran-ontran Kadilangu dan Sosok Priyayi yang Merakyat
Mengenang Mbah Abdul Kadir, Santri Dzurriyah Sunan Kalijaga, “Pendamai” Ontran-ontran Kadilangu dan Sosok Priyayi yang Merakyat

Masa Ontran-Ontran di Kadilangu

Pada tanggal 11 Oktober tahun 1880 Pangeran Wijil V, pemimpin tanah perdikan Kadilangu wafat. Kemudian terjadi rebutan pemimpin Kadilangu (orang tua dulu menyebutnya ada pangeran kembar). Ontran-ontran ini terjadi selama 3 tahun (1880-1883) sehingga terjadi kekosongan atau tidak ada pemimpin resmi yang berkuasa di Kadilangu.

Situasi kala itu tambah rumit saat tiba Hari Raya Idul Adha. Sesuai adat di keluarga Kadilangu, biasanya diadakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga yaitu baju kotang Ontokusumo dan keris Kiai Cerubuk. Namun karena ada dua pangeran yang berebut tahta, maka untuk keadilan dicarilah ahli waris yang netral dan paling sepuh.

Setelah dicari garis keturunan sepuh yang netral hasilnya jatuh pada keluarga Eyang Setro (panggilan Eyang Raden Sastrohamijoyo). Namun karena Eyang Setro sudah sepuh maka anaknya bernama Abdul Kadir yang sejak kecil sudah mondok di pesantren Ngroto Gubug diminta pulang untuk mengambil dua pusaka Sunan Kalijaga yang saat itu disimpan di atas Masjid Agung Demak.

Abdul Kadir dijemput menggunakan kereta kuda untuk pulang ke Demak. Usia Abdul Kadir saat itu 10 tahun. Setelah tugas mengambil dua pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dapat dilaksanakan dengan baik maka Abdul Kadir kembali ke pondok.

Tak berapa lama kemudian, ontran-ontran rebutan pimpinan di Kadilangu berhasil reda setelah terbit Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 16, tertanggal 5 Mei 1883, tentang Pengangkatan Raden Ngabei Notobroto menjadi Kepala Perdikan Kadilangu.

Pada tahun 1883 Abdul Kadir pulang ke Wonosalam untuk dikhitan. Saat itu usianya menginjak 12 tahun. Pada saat dikhitan dan belum sembuh ia ikut saudaranya menggembala ternak bebek di sekitaran stasiun Demak.

Rupanya saat itu terjadi bencana alam yang dahsyat. Yakni gunung Krakatau yang berada di Pulau Rakata Perairan Selat Sunda. Dikutip dari History, letusan saat itu merupakan yang terkuat dalam sejarah dengan level 6 skala Volcanic Explosivity Index (VEI) dengan kekuatan 200 megaton TNT. Sebagai perbandingan, bom yang menghancurkan kota Hiroshima, Jepang pada 1945 memiliki kekuatan 20 kiloton.

LIHAT JUGA :  Tokoh Lintas Agama Apresiasi Semangat Kebersamaan Momentum Idulfitri di Jateng

Begitu dahsyatnya letusan ini, sampai terdengar di Australia Tengah yang berjarak 3.300 km dari titik ledakan dan Pulau Rodriguez di Samudera Hindia yang berjarak 4.500 km. Letusan ini juga memicu tsunami besar yang melanda wilayah sekitarnya. Tercatat, ada sekitar 35.500 korban meninggal dunia yang 31.000 antaranya karena tsunami yang terjadi setelah materi letusan gunung mengalir deras ke laut. Selain itu, sebanyak 4.500 orang hangus akibat aliran piroklastik yang menerjang permukiman setelah bergulir di atas permukaan laut.

Wilayah Demak yang berjarak sekitar 536 kilometer dari Selat Sunda juga terkena dampak meletusnya Gunung Krakatau. Termasuk lokasi tempat Abdul Kadir angon bebek. Ternyata bebek yang “diangon” Abdul Kadir terkubur abu vulkanik. Namun Abdul Kadir kecil selamat dari bencana dahsyat itu. Ia ditemukan oleh di stasiun Demak. Setelah itu ia diajak pulang ke rumah.

Nyantri di Girikusumo

Abdul Kadir memang sosok yang haus ilmu. Meski sudah nyantri selama hampir 10 tahun di pondok pesantren Ngroto Grobogan, ia masih merasa belum cukup ilmu. Sehingga usai boyong dari Grobogan ia merasa perlu mondok lagi.

Saat itu, usianya sekitar 20-an tahun, ia akhirnya berangkat naik kuda pergi ke Pesantren Girikusumo Banyumeneng Mranggen Demak yang diasuh oleh KH Abdul Hadi (Mbah Hadi).

Di pesantren Girikusumo Banyumeneng Mranggen Abdul Kadir merasa betah hingga bisa mondok dalam waktu lama. Di pesantren Girikusumo Abdul Kadir mengajak keponakannya yang bernama Madrani. Mereka berdua mendalami ilmu agama seperti ilmu fiqh, tauhid (akidah), nahwu dan shorof, tafsir dan hadits serta thoriqoh.

Setelah mondok di Girikusumo Abdul Kadir ingin belajar berwirausaha sekaligus untuk belajar dunia kehidupan nyata dan bergaul dengan banyak orang. Beliau belajar tata cara membuat kerajinan emas di daerah Tugu Sayung.

Beliau membeli sejumlah peralatan untuk membuat kerajinan emas. Saat itu, profesi ini sangat langka sebab alat untuk membuat emas tergolong mahal. Sehingga pekerjaan ini lazimnya hanya bisa dijalani oleh orang-orang tertentu.

Abdul Kadir lantas mulai praktik membuat kerajinan emas. Ia juga mengembara menjadi “kemasan”, yaitu profesi berjualan emas keliling (saat itu mata pencarian masih sulit, masih zaman penjajahan Belanda dan hidup rakyat mayoritas masih menderita).

Dalam pengembaraannya jualan emas keliling sampailah di banyak tempat dan berkenalan dengan banyak orang. Hingga akhirnya hatinya jatuh cinta kepada gadis asal Dukuh Gading Desa Candisari Kecamatan Mranggen.

Membina Rumah Tangga

Pada tahun 1900-an, saat Mbah Abdul Kadir menginjak usia 30-an tahun beliau menikah dengan Mbah Salipah binti Abdurrohman. Mbah Abdurrohman suami Mbah Mainah anak Mbah Tong Singo (Lurah Desa Jetis tak jauh dari Candisari) yang besanan dengan Waliyullah Syekh Abdurrahman Subhi atau Mbah Subuh yang makamnya berada di Alas Roban Batang.

Di Dukuh Gading, Mbah Abdul Kadir menikah dua kali. Mbah Abdul Kadir dan istri pertamanya Mbah Salipah berdomisili di Dukuh Gading Desa Candisari. Hasil pernikahan pertama melahirkan Saleman (lahir 1911).

Setelah istri pertama wafat, Mbah Abdul Kadir menikah lagi dengan Kardimah binti Muden Kardi dan Sagimah Binti Mbah Abdurrohman bin Mbah Subuh Batang. Jadi istri kedua masih keponakan istri pertama.

Hasil pernikahan dengan istri kedua mempunyai empat anak yaitu Saikun (lahir 1926 wafat tahun 1963 dalam usia 37 tahun), Sukri (lahir 1929 wafat 2012 dalam usia 83), Matrohkatun Prayitno (lahir 1932 wafat 2008 dalam usia 76), Mat Sahid (lahir 1943-sekarang).

LIHAT JUGA :  Inspirasi Muh Khamdan: Jangan Anggap Sepele! Saatnya Aktualisasi CPNS Dilindungi Hak Cipta

Ikut Berdakwah

Walau sudah menikah tetapi hubungannya dengan gurunya Mbah Abdul Hadi (Girikusumo) masih terjalin baik sehingga secara berkala pada hari-hari tertentu masih berangkat mengaji ke Girikusumo.

Kondisi Masyarakat Candisari saat itu Islamnya belum kuat. Masih banyak yang abangan bahkan banyak yang non muslim. Penguasa setempat meminta Mbah Hadi untuk membantu syiar Islam di Candisari.

Mendengar permohonan tokoh masyarakat Desa Candisari untuk memperhatikan syiar Islam di Candisari maka Mbah Hadi Girikusumo meminta Mbah Abu Mi’roj untuk membuka pemukiman di daerah utara Candisari Mranggen. Mbah Abu Mi’roj adalah cucu menantu Mbah Hadi Girikusumo (menantu Mbah Ghofur, putera Mbah Hadi).

Setelah mendapatkan tanah dari penguasa setempat yang peduli dengan syiar Islam di Desa Candisari maka dibukalah pemukiman baru di sisi utara Candisari tepatnya di Dukuh Gading. Mbah Abdul Kadir pun ikut membantu Mbah Abu Mi’roj dalam berdakwah di Desa Candisari Kecamatan Mranggen.

Program utama adalah bagaimana dapat mendirikan sebuah masjid sebagai pusat dakwah Islam. Masjid berfungsi sebagai tempat shalat, belajar agama, hingga melayani umat. Setelah mendapatkan tanah untuk lokasi pembangunan masjid tersebut maka dimulailah pembangunan masjid. Masjid Gading berhasil dibangun pada tahun 1912.

Serambi masjid pertama itu adalah pendopo rumah Mbah Abdul Kadir. Mbah Abdul Kadir kemudian ikut aktif dalam syiar Islam di Gading dengan suaranya yang merdu kemudian menjadi muadzin di Masjid Gading. Dalam perkembangannya Dukuh Gading berubah menjadi kampung santri dan tumbuh banyak pondok pesantren dan lembaga pendidikan.

Ikhlas dan Merakyat

Mbah Abdul Kadir memiliki kepribadian yang ikhlas dan merakyat. Walau lahir dari keluarga priyayi namun tidak membuatnya angkuh dan sombong. Bahkan beliau lebih nyaman menjadi rakyat biasa yang hidup di desa dan istiqomah mengikuti dawuh gurunya.

Beliau memiliki tanah di Wonosalam dan Ploso warisan orang tuanya namun tidak semuanya dia ambil. Sebagian dijual untuk menjadi bekal hidup baru berumah tangga dan sebagian lagi diberikan kepada saudaranya.

Menurut cerita Eko Wisnu Atmojo, cucu Mbah Abdul Kadir, yang mendapatkan cerita tutur dari Mbah Kardimah (istri kedua Mbah Abdul Kadir), bahwa Mbah Abdul Kadir sebetulnya mendapatkan jatah warisan tanah dari ibunya yang anak lurah Ploso Wonosalam, tapi karena jauh tidak dapat mengelolanya, sehigga warisan tanah diserahkan kepada saudaranya di Ploso.

Berkat kerja kerasnya Mbah Abdul Kadir yang sudah berdomisili di Dukuh Gading akhirnya memiliki tanah yang luas baik sawah maupun pekarangan yang diwariskan dan dikelola dengan baik.

Mbah Abdul Kadir menghabiskan hidupnya dengan bertani dan menjadi “kemasan” yaitu orang yang ahli di bidang kerajinan emas, sambil ikut berdakwah dan berdagang di pasar.

Wafat dan Fenomena “Makam Unthuk”

Mbah Abdul Kadir wafat di Dukuh Gading Desa Candisari Kecamatan Mranggen Demak tanggal 21 November tahun 1947 pada hari Jum’at Pahing dalam usia 76 tahun. Makamnya di belakang MTs Negeri 1 Mranggen di dukuh Gading desa Candisari Mranggen Demak.

Salah satu fenomena yang unik dan langka di makam Mbah Abdul Kadir adalah adanya “tanah unthuk” di atas pusara makam beliau. Fenomena ini tentu tidak lazim. Tinggi “tanah unthuk” kisaran satu setengah meter hampir sampai atap cungkup makam. Menurut penuturan orang-orang tua dahulu jika ada makam yang terdapat “tanah unthuk” menandakan kalau itu makam milik orang sholeh dan berbudi pekerti yang luhur. []

M Kholidul Adib (Sekretaris Yayasan Kota Wali Demak)