HALO JEPARA- Tongkat estafet kepemimpinan Jepara resmi berganti seiring dilantiknya Witiarso Utomo – M Ibnu Hajar sebagai Bupati dan Wakil Bupati Jepara periode 2025-2030.
Saat kampanye Pilkada 2024 lalu, Witiarso Utomo – Ibnu Hajar ingin menggenjot PAD melalui berbagai pintu, salah satunya sektor pariwisata. Komitmen ini “nyambung” dengan berbagai potensi pariwisata di Jepara yang jika dikembangkan bisa menjadi daya ungkit perekonomian daerah.
Salah satu destinasi wisata andalan di Jepara adalah Karimunjawa. Mulai April 2025, akses ke Karimunjawa akan semakin mudah dengan hadirnya penerbangan langsung dari Yogyakarta dan Semarang menuju Bandara Dewandaru.
Fly Jaya, maskapai yang mengoperasikan pesawat ATR berkapasitas 70 penumpang, akan melayani rute ini dalam tahap uji coba selama tiga bulan pertama dengan dukungan dari Dinas Pariwisata Jawa Tengah.
Langkah ini merupakan terobosan besar yang berpotensi meningkatkan jumlah wisatawan, mempercepat pengembangan ekonomi lokal, serta memperkuat branding Karimunjawa sebagai destinasi unggulan di Jawa Tengah.
Karimunjawa, sebagai bagian dari Kabupaten Jepara, memiliki kekayaan bahari luar biasa yang sering dibandingkan dengan Maladewa. Sayangnya, selama ini aksesibilitas menjadi tantangan utama bagi pertumbuhan pariwisata di kepulauan ini. Dengan adanya jalur udara langsung, wisatawan kini dapat mencapai Karimunjawa lebih cepat dan nyaman, mengurangi ketergantungan pada kapal laut yang rentan terhadap cuaca buruk.
Kecepatan akses ini akan meningkatkan daya tarik Karimunjawa, terutama bagi wisatawan domestik dan mancanegara yang menginginkan pengalaman wisata bahari eksklusif tanpa hambatan perjalanan panjang.
Peningkatan jumlah wisatawan ke Karimunjawa tentu akan berdampak positif bagi perekonomian Jepara secara keseluruhan. Dengan tingginya arus kunjungan, sektor perhotelan, kuliner, dan industri kreatif setempat akan berkembang pesat. UMKM lokal, terutama yang bergerak dalam penyediaan suvenir, makanan khas, serta jasa wisata, akan mendapat manfaat langsung dari meningkatnya permintaan.
Selain itu, efek ganda dari sektor pariwisata dapat merangsang investasi baru di bidang infrastruktur, perhubungan, dan layanan publik.
Namun, peningkatan jumlah wisatawan juga harus diimbangi dengan strategi keberlanjutan yang matang. Karimunjawa adalah kawasan konservasi dengan ekosistem laut yang rentan terhadap eksploitasi berlebihan. Oleh karena itu, kebijakan pengelolaan wisata yang berorientasi pada konservasi menjadi keharusan.
Pemerintah Kabupaten Jepara harus memastikan bahwa pengembangan fasilitas wisata tetap memperhatikan daya dukung lingkungan, termasuk regulasi ketat terhadap pembangunan hotel dan penggunaan energi ramah lingkungan.
Salah satu ironi dalam pengelolaan wisata Jepara adalah keberadaan ikon Patung Kura-Kura Raksasa di Pantai Kartini, sementara di pantai-pantai Jepara sendiri sudah tidak ditemukan adanya kura-kura atau penyu. Tidak ada upaya nyata untuk melindungi habitat kura-kura atau membangun kawasan konservasi yang mendukung keberlanjutan spesies tersebut di daerah ini.
Padahal, jika konservasi kura-kura dijalankan dengan baik, Jepara bisa memiliki daya tarik ekowisata tambahan yang memperkuat identitas daerah. Pemerintah daerah bersama komunitas lingkungan perlu mempertimbangkan pembangunan pusat konservasi kura-kura, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat perlindungan tetapi juga sebagai destinasi edukasi dan wisata.
Seiring dengan berkembangnya sektor pariwisata, Jepara juga berpeluang memperkuat ekosistem wisata halal sebagai bagian dari daya tarik utama. Dengan bupati baru yang memiliki visi progresif, kebijakan pariwisata berbasis halal dapat menjadi strategi unggulan untuk meningkatkan daya saing daerah.
Wisata halal tidak hanya tentang makanan bersertifikat halal, tetapi juga mencakup layanan akomodasi, fasilitas ibadah, serta pengalaman wisata yang sesuai dengan prinsip syariah. Inisiatif ini akan menjadikan Jepara sebagai destinasi inklusif yang dapat menarik wisatawan Muslim dari dalam dan luar negeri.
Selain aspek wisata halal, Jepara juga harus memanfaatkan statusnya sebagai kota kelahiran R.A. Kartini dengan memperkuat wisata budaya dan sejarah. Kombinasi antara wisata bahari, budaya, dan halal akan menjadikan Jepara sebagai destinasi lengkap yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan sinergi yang baik antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, Jepara bisa menjadi contoh sukses pembangunan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
Keberadaan penerbangan langsung ke Karimunjawa merupakan momentum yang harus dimanfaatkan dengan baik. Tidak hanya untuk meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga untuk membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis nilai-nilai halal.
Jika langkah ini dikawal dengan kebijakan yang tepat, Jepara dan Karimunjawa berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia yang mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, konservasi lingkungan, dan keberpihakan pada wisata ramah Muslim.
Muh Khamdan, Analis Kebijakan Publik; Pembina Paradigma Institute












