HALO JATENG– Suasana khidmat dan interaktif mewarnai ruang virtual pelatihan yang digelar Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang, ketika Dr. Muh Khamdan selaku widyaiswara Badiklat Hukum Jawa Tengah, memberikan penguatan nilai-nilai budaya kerja BerAKHLAK kepada 41 peserta Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS di lingkungan Kementerian Agama.
Bertempat di ruang Widyaiswara Badiklat Hukum Jateng, Semarang, pelatihan ini menjadi ruang refleksi sekaligus afirmasi nilai-nilai ASN yang humanis dan religius. Khamdan yang menyelesaikan pendidikan hingga doktoralnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengaku, kegiatan ini terasa seperti “pulang kampung”.
“Saya merasa berada di habitat saya sendiri, karena berada di tengah keluarga besar Kementerian Agama,” ucap Khamdan dalam sambutannya yang disambut hangat oleh para peserta.
Dalam paparannya, ia membedah tuntas tujuh nilai utama ASN yang terangkum dalam core values BerAKHLAK (Berorientasi pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif). Nilai-nilai tersebut, kata Khamdan, bukan hanya jargon birokrasi, melainkan harus menjadi napas dan karakter setiap insan ASN dalam melayani masyarakat, terlebih di lingkungan Kementerian Agama yang sarat amanah pelayanan publik berbasis nilai-nilai spiritual.
Peserta yang berasal dari 17 kabupaten/kota, termasuk Jepara, Semarang, Magelang, Kebumen, Cilacap, Purworejo, Boyolali, hingga Bantul dan Sleman, diajak untuk mendalami nilai berorientasi pelayanan melalui pendekatan praktik terbaik (best practices).
Salah satunya melalui visitasi kelompok daring ke Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) yang dituturkan Aini Rahmania, dosen UIN Salatiga, serta layanan kepenghuluan yang diceritakan oleh Wahyudi, penghulu KUA Tahunan Jepara.
Tidak hanya itu, administrasi wakaf dan kemasjidan turut dikupas bersama Ika Sulistiana dari MAN 1 Magelang, membentuk jejaring wawasan peserta dalam mengintegrasikan pelayanan yang cepat, transparan, dan berorientasi pada kepuasan umat.
Pada nilai harmonis, peserta memperoleh penguatan mendalam mengenai moderasi beragama. Khamdan menekankan pentingnya kolaborasi lintas iman, penghormatan terhadap kearifan lokal, serta sikap anti kekerasan sebagai pilar ASN Kemenag yang menjadi garda depan dalam menjaga kohesi sosial dan kebhinekaan Indonesia.
“Moderasi beragama bukan hanya program, tapi prinsip hidup ASN Kementerian Agama. Mencintai tanah air, menghargai perbedaan, dan hidup damai dalam keberagaman adalah bentuk pengamalan nilai harmonis yang harus ditanam sejak dini,” tegas Khamdan dalam sesi dialog.
Nilai kompeten dan adaptif juga diperdalam melalui studi kasus dalam kelompok belajar. Para peserta yang terdiri dari calon dosen, guru, penyuluh agama, dan penghulu diberikan tantangan untuk merancang solusi berbasis nilai BerAKHLAK terhadap persoalan-persoalan birokrasi di lapangan, mulai dari konflik sosial hingga keterlambatan pelayanan publik.
Semangat kolaboratif tampak menonjol dalam kerja kelompok yang dipandu fasilitator. Kolaborasi lintas profesi menjadi contoh nyata implementasi nilai kolaboratif, di mana penyuluh agama dapat bergandeng tangan dengan guru madrasah untuk menguatkan peran keagamaan dan pendidikan dalam komunitas.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB itu berlangsung dinamis hingga pukul 16.15 WIB. Di penghujung pelatihan, seluruh peserta menyatakan komitmennya secara tertulis dan lisan untuk mengimplementasikan nilai-nilai BerAKHLAK dalam tugas mereka kelak sebagai ASN di berbagai wilayah penugasan.
Dalam pernyataan penutupnya, Khamdan menyampaikan bahwa ASN Kemenag harus menjadi wajah pelayanan publik yang menyenangkan, bukan menakutkan. “BerAKHLAK adalah jalan pengabdian, dan moderasi adalah cahaya jalan itu,” tutupnya.
Kegiatan ini tidak hanya menyegarkan kembali semangat pengabdian peserta Latsar, tetapi juga menjadi momentum strategis meneguhkan wajah ASN Kementerian Agama sebagai abdi negara yang profesional, inklusif, religius, dan nasionalis.
Para peserta pun menyampaikan rasa syukur dan antusiasme mereka. “Kami bukan hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga energi spiritual untuk menjadi ASN yang melayani dengan hati,” ujar Anis Nur Rohmah, salah satu peserta asal Boyolali.
Pelatihan ini menjadi bukti bahwa birokrasi yang kuat hanya bisa dibangun melalui nilai yang kokoh dan manusiawi. (*)











