Syekh Badruddin Sentanu, Kerabat Joko Tingkir dan Syiar Islam di Pongangan Gunungpati

Syekh Badruddin Sentanu, Kerabat Joko Tingkir dan Syiar Islam di Pongangan Gunungpati
Syekh Badruddin Sentanu, Kerabat Joko Tingkir dan Syiar Islam di Pongangan Gunungpati

Syekh Badruddin Sentanu, Kerabat Joko Tingkir dan Syiar Islam di Pongangan Gunungpati

HALO JATENG- Gunungpati sebagai kawasan pegunungan dan perbukitan di Kota Semarang bagian selatan menyimpan berbagai potensi wisata yang menarik untuk dikembangkan.

Selain lingkungan yang masih asri dan sejuk sehingga nyaman untuk hunian dan pariwisata alam, juga terdapat wisata religi yang potensial untuk dikembangkan.

Salah satunya adalah wisata religi ziarah ke makam Syekh Badruddin Sentanu yang berlokasi di Kelurahan Pongangan Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

Selain makam Syekh Abdurrahman Sentanu, di pemakaman yang sama juga terdapat makam Suro Menangan yang merupakan orang dekat Syekh Badruddin Sentanu.

Pengembangan potensi wisata religi di makam Syekh Badruddin Sentanu menarik untuk diseriusi karena akan terkoneksi dengan pengembangan wisata Sendang Bendho yang berada tidak jauh dari lokasi makam dan terhubung dengan wisata religi dan wisata alam di sekitarnya seperti Goa Kreo dan waduk Jatibarang yang jaraknya hanya 2 km dari Pongangan.

Latar Belakang Keluarga 

Syekh Badruddin Sentanu hidup pada kisaran abad ke-17 di era Kerajaan Mataram Islam. Pada era itu Kerajaan Mataram Islam sedang menghadapi ancaman VOC Belanda yang sudah menguasai Batavia dan sedang berusaha untuk menguasai perdagangan di pesisir Jawa.

Syekh Badruddin Sentanu merupakan saudara Mbah Kyai Joyo Sampurno yang makamnya ada di Kelurahan Sadeng Gunungpati, sekitar 3 km di sebelah utara Pongangan.

Syekh Badruddin Sentanu dan Mbah Kyai Joyo Sampurno merupakan anak dari Demang Sumbing atau cucu dari Adipati Pengging. Syekh Badruddin Sentanu keturunan kelima dari Ki Ageng Pengging atau ayahnya Joko Tingkir.

LIHAT JUGA :  Dr. Syamsul Arifin, Sosok Multitalenta, Akademisi Unisnu Langka, Tak Hanya Isi Kuliah, Tapi juga Bangun Mimpi Kreatif Mahasiswanya

Syiar Islam 

Syekh Badruddin Sentanu yang hidup pada abad ke-17 diyakini sebagai salah satu ulama yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Pongangan dan sekitarnya. Sebagai seorang ulama, beliau dalam berdakwah merangkul masyarakat sekitar agar senantiasa beribadah kepada Allah SWT.

Saat itu tantangan yang dihadapi Syekh Badruddin Sentanu adalah menghadapi masyarakat yang masih menganut ajaran animisme dan dinamisme. Dalam berdakwah Syekh Badruddin berusaha untuk mendamaikan persoalan agama dan kebudayaan sehingga Islam bisa diterima oleh masyarakat.

Dalam perkembangannya masyarakat Pongangan mau menerima agama Islam dan hingga sekarang umat Islam berkembang pesat dengan mengamalkan ajaran Islam ala ahlissunnah wal jamaah sebagaimana yang dianut warga Nahdlatul Ulama (NU).

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Syekh Badruddin Sentanu, warga Pongangan sejak dahulu sudah sering mengadakan ziarah ke makam beliau bahkan ada yang melakukan tawashul atau ngalap barokah agar masyarakat yang mayoritas petani nantinya dapat panen dengan hasil yang melimpah.

Identifikasi Makam

Semula warga Pongangan lebih mengenal makam Syekh Badruddin Sentanu sebagai makam Mbah Babat dan diyakini sebagai leluhur yang membabat alas untuk dijadikan pemukiman penduduk Pongangan di masa lampau.

Pada tahun 1990-an, bangunan makam Mbah Babat masih sederhana, sudah ada cungkup tua yang di sebelahnya terdapat pohon besar sudah doyong (miring) ke arah makam tapi tidak roboh atau ambruk dan bertahan hidup cukup lama.

LIHAT JUGA :  SOSOK Muhammad Rasya dan Anindya Putri, 2 Pelajar Jateng Jadi Paskibraka Nasional 2025

Fenomena ini menimbulkan rasa penasaran di benak masyarakat, salah satunya seorang tokoh agama setempat bernama Kiai Abdul Wahid.

Pada tahun 1993/1994, Kiai Abdul Wahid yang alumni pesantren Futuhiyyah Mranggen sowan kepada Syekh Abdurrahman (Syekh Dur, menantu Mbah KH Muslih pengasuh pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak) untuk menanyakan siapa sejatinya sosok Mbah Babat yang makamnya ada di Pongangan Gunungpati.

Syekh Abdurrahman Mranggen selama ini dikenal sebagai ulama yang memiliki ilmu laduni atau al-arif billah. Kiai Abdul Wahid mendapatkan jawaban dari Syekh Abdurrahman Mranggen bahwa Mbah Babat adalah seorang waliyullah, seorang ulama pejuang dakwah Islam di daerah Pongangan dan sekitarnya.

Untuk identifikasi siapa sesungguhnya Mbah Babat, Kiai Abdul Wahid disarankan untuk sowan KH Munif Zuhri Girikusumo Mranggen.

Kiai Abdul Wahid kemudian sowan KH Munif Zuhri Girikusumo. KH Munif Zuhri menerangkan bahwa Mbah Babat memiliki nama asli Syekh Badruddin Sentanu. Kemudian Kiai Abdul Wahid diberi pesan agar memelihara makam tersebut.

Setelah adanya penjelasan dari KH Munif Zuhri bahwa makam Mbah Babat adalah Syekh Badruddin Sentanu maka warga kemudian menyebutnya Syekh Badruddin Sentanu.

Menurut cerita tokoh pemuda Pongangan, Ahmad Fadli Rois yang merupakan putera Kiai Abdul Wahid, bahwa KH Munif Zuhri dahulu sudah pernah sekitar tiga kali ziarah ke makam Syekh Badruddin Sentanu.

Selain KH Munif Zuhri dari Girikusumo Mranggen, ulama yang dahulu sering ziarah adalah KH Masyhudi Asy’ari, pengasuh Pesantren Nurul Hidayah Pedurungan.

Potensi Wisata Ziarah

LIHAT JUGA :  Kisah Kiai Ahmad Fauzan Dituduh Provokator Penjarahan Toko Juragan Tionghoa di Pasar Bangsri Jepara

Warga Pongangan masih rutin melakukan ziarah ke makam Syekh Badruddin Sentan, terutama pada tanggal 8 Muharrom dengan diadakan haul untuk kirim doa dan pengajian umum demi melanjutkan syiar Islam.

Kegiatan ziarah dan haul berawal dari rasa syukur dan terima kasih warga kepada beliau berkat jasa-jasanya masyarakat Pongangan banyak yang memeluk agama Islam dan dapat hidup dengan rukun dan damai.

Kegiatan haul dimulai dengan ziarah di sore hari dengan pembacaan surat Yaasin dan tahlil dan malamnya diadakan pengajian di rumah sesepuh desa yang menjadi juru kunci makam.

Pengajian umum haul Syekh Badruddin Sentanu biasanya mengundang penceramah dari keluarga Girikusumo Mranggen yang masih memiliki hubungan nasab dengan Syekh Badruddin Sentanu.

Nama Syekh Badruddin Sentanu diabadikan sebagai nama lapangan sepakbola di Pongangan yaitu Lapangan Sentanu. Bahkan muncul wacana untuk menjadikan Syekh Badruddin Sentanu sebagai nama jalan di Pongangan.

Makam Syekh Badruddin Sentanu memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi dan sejarah. Di dekat lokasi makam juga terdapat Sendang Bendho yang airnya jernih dan sudah diresmikan sebagai destinasi wisata alam oleh Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Semarang.

Tidak jauh dari Sendang Bendho juga akan dibangun Pesantren Entrepreneurship dan Teknologi Ki Ageng Pandanaran Semarang. Sehingga ke depan kawasan tersebut berpeluang untuk menjadi salah satu kampung wisata yang menarik untuk dikunjungi. (*)

*M Kholidul Adib, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nashr (LTN) PCNU Kota Semarang