HALO JEPARA- Mentari pagi menyemburat lembut di langit Karimunjawa. Di atas kapal nelayan sederhana yang bergoyang pelan diterpa ombak kecil, Bupati Jepara, Witiarso Utomo yang akrab disapa Mas Wiwit, berdiri memandang hamparan laut biru yang membentang hingga ke cakrawala.
Di kejauhan, hamparan rumput laut tampak mengapung, menjadi saksi perjuangan para petani yang menggantungkan harapan pada hasil panen mereka.
Pagi akhir pekan lalu, Mas Wiwit mendatangi para petani dan masyarakat di Dukuh Mrican, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa. Kedatangannya tak hanya sekadar datang untuk basa-basi namun juga ingin menyelami kehidupan mereka lebih dekat. Dengan menaiki kapal nelayan, ia melihat langsung hamparan budidaya rumput laut yang selama ini menjadi salah satu tumpuan ekonomi warga.
Di atas kapal yang sederhana, Witiarso berbicara dengan semangat.
“Budidaya ini bukan sekadar soal panen, tapi bagaimana kita bisa menjadikannya destinasi ekowisata,” ujarnya.
Rencana besar itu bukan tanpa alasan. Dengan luas lahan sekitar 500 hektare, Karimunjawa menyimpan potensi besar untuk menggabungkan sektor pariwisata dan budidaya laut, menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan petani rumput laut.
Mas Wiwit percaya bahwa ekowisata ini bukan sekadar wacana. Dengan memberikan bantuan berupa bibit dan peralatan kepada para petani, ia ingin memastikan budidaya rumput laut tidak hanya menghasilkan panen yang melimpah tetapi juga menjadi daya tarik wisata.
“Budidaya yang bisa diwisatakan,” ujarnya dengan senyum optimis.

Bagi Mas Wiwit, ekowisata adalah langkah strategis. Dengan sekali tindakan, dua keuntungan bisa didapat: pariwisata dan hasil budidaya. Bahkan, ia sudah menyiapkan rencana besar dengan mendorong para petani melakukan studi banding ke Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang selama ini sukses mengelola budidaya rumput laut.
“Kalau masih pusing soal hama dan cuaca, kita belajar ke luar. Jangan berhenti di sini saja,” tambahnya.
Ia bercita-cita menjadikan Karimunjawa sebagai salah satu pemasok utama rumput laut di Indonesia dengan target minimal 10 persen dari kebutuhan nasional.
Harapan yang Kembali Tumbuh
Bagi Muslikhun, salah seorang petani rumput laut, gagasan ekowisata ini adalah angin segar yang membawa harapan baru. Sejak 2017, para petani di Karimunjawa mengalami masa-masa sulit. Hama dan cuaca buruk menyebabkan hasil panen menurun drastis, hanya menyisakan 1,5 hingga 2 kilogram per titik.
“Dulu hasilnya banyak, sekarang malah menyusut. Tapi dengan trobosan baru dari Pak Bupati, saya optimis rumput laut Karimunjawa bisa berjaya lagi,” katanya dengan mata berbinar.
Ia membayangkan bagaimana wisatawan yang datang tidak hanya menikmati keindahan laut, tetapi juga belajar tentang proses budidaya rumput laut.
Petinggi Desa Kemujan, Mas’ud Dwi Wijayanto, juga mengapresiasi langkah yang diambil oleh Bupati Jepara. Menurutnya, dukungan pemerintah yang berkelanjutan akan menjadi kunci bagi para petani untuk bangkit.
“Terima kasih atas support-nya. Semoga rumput laut Karimunjawa bisa kembali bersinar,” ujarnya.

Ekowisata, Mimpi yang Sedang Dirajut
Mas Wiwit menyadari bahwa perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam. Namun, ia yakin dengan kolaborasi antara pemerintah, petani, dan masyarakat, ekowisata rumput laut bisa menjadi kenyataan.
Dengan rencana memperluas area budidaya hingga 1.000 hektare, Karimunjawa diharapkan menjadi penyumbang besar komoditas rumput laut nasional.
Saat kapal perlahan kembali ke dermaga, Mas Wiwit menyempatkan diri bercengkerama dengan para nelayan. Senyum dan tawa terdengar akrab seakan mencerminkan harapan besar yang sedang dirajut bersama.
“Karimunjawa bukan sekadar destinasi wisata, tetapi rumah bagi mereka yang terus berjuang menghadapi tantangan laut. Di balik setiap gelombang, ada cerita tentang keteguhan, harapan, dan mimpi yang suatu saat akan menjadi nyata. Kita ingin konsep ekowisata berjalan maksimal di Karimunjawa,” tandas Mas Wiwit.












