The Rise of the Meaning Economy And Tourism at Jepara

The Rise of the Meaning Economy And Tourism at Jepara
The Rise of the Meaning Economy And Tourism at Jepara

HALO JEPARA- Menarik sekali, saat saya mengikuti program Bupati Ngantor di Desa pada tanggal 24 Juni 2025 di Desa Batealit Kecamatan Batealit Kabupaten Jepara yang menyuguhkan potensi budaya, UMKM dan pariwisata lokal. Mas Bupati Witiarso Utomo disambut seni budaya Reog dan gamelan khas Desa Batealit yang dimainkan oleh anak anak usia Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, kemudian disuguhi beragam kuliner khas Desa Batealit seperti sego pecel pakis, kopi Batealit, unjukan cendol dan lainnya. Selain itu ada juga beragam produk UMKM dari seluruh desa di Kecamatan Batealit yang tertata rapi di sepanjang jalan.

Mas Bupati juga nglarisi produk UMKM dari seluruh desa di Kecamatan Batealit itu. Hal itu dilakukan sebagai apresiasi, dukungan nyata dan simbol keberpihakan kepada para pelaku UMKM dengan berbagai jenis produk yang selama ini telah ikut menyokong perekonomian daerah.

Setelah itu, Mas Bupati menyerap aspirasi dan permasalahan yang disampaikan oleh berbagai elemen di Desa Batealit (selaku tuan rumah). Berbagai masalah dan aspirasi yang disampaikan mulai dari soal infrastruktur, pemberdayaan UMKM hingga potensi wisata Kali Ndayung langsung dicarikan solusi oleh Mas Bupati dan jajarannya.

Setelah itu, acara berlanjut dengan Focus Grup Discussion (FGD) yang membahas berbagai problematika desa-desa di Kecamatan Batealit. Salah satu yang mengemuka adalah peningkatan usaha mandiri lokal dan pengembangan pariwisata mandiri desa.

Program Bupati Ngantor Desa, memberikan satu konsep perubahan pendekatan ekonomi global yang disebut; *the Meaning Economy* atau *Inovasi Ekonomi Berbasis Makna*. Pendekatan ini adalah merujuk pada pergeseran dalam ekonomi global di mana nilai dan makna menjadi faktor penting dalam produksi, konsumsi, dan investasi. Dalam ekonomi ini, produk dan jasa tidak hanya dinilai berdasarkan harga dan kualitas, tetapi juga berdasarkan dampak sosial, lingkungan, budaya dan makna yang mereka tawarkan kepada konsumen.

Adapun ciri-ciri Ekonomi Berbasis Makna ini adalah pertama, Nilai Tambah Sosial dan Lingkungan dimana produk dan jasa yang menawarkan manfaat sosial dan lingkungan yang positif menjadi lebih bernilai. Kedua, Konsumsi yang Bertanggung Jawab yaitu konsumen semakin peduli dengan dampak sosial, budaya dan lingkungan dari pilihan konsumsi mereka.

LIHAT JUGA :  Aktivis 98 Kelahiran Jepara Jadi Wakil Menteri HAM, Tokoh NU Asal Kudus Menteri ATR/BPN

Ketiga, Inovasi Berbasis Makna, artinya perusahaan dan entrepreneur menciptakan solusi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumen, tetapi juga memberikan makna dan tujuan yang lebih besar. Keempat, Pengukuran Nilai yang Lebih Luas, dimana nilai tidak hanya diukur berdasarkan keuntungan finansial, tetapi juga berdasarkan dampak sosial, budaya dan lingkungan.

The Rise of the Meaning Economy And Tourism at Jepara (Foto suasana di Kepulauan Karimunjawa)
The Rise of the Meaning Economy And Tourism at Jepara (Foto suasana di Kepulauan Karimunjawa)

Dari keterangan di atas Ekonomi Berbasis Makna memiliki dampak yang signifikan yaitu pertama, Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. Ekonomi berbasis makna dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menyediakan produk dan jasa yang lebih bertanggung jawab sesuai dengan kondisi lokalitas yang dimilikinya.

Kedua, Inovasi yang Berkelanjutan. Ekonomi berbasis makna dapat mendorong inovasi yang berkelanjutan dan bertanggung jawab dimana hasil produksi lokal akan terus berkembang dan dapat memiliki nilai tawar dan pilihan alternatif. Ketiga, Perubahan Pola Konsumsi. Ekonomi berbasis makna dapat mengubah pola konsumsi masyarakat menjadi lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Masyarakat akan menikmati produk lokalnya sendiri karena secara inheren telah menjadi kekhasan yang dimiliki.

Konsekwensinya, The Meaning Economy hadir dan lahir dari kelesuan batin di tengah limpahan barang dan layanan. Konsep ini menjawab sebuah pertanyaan penting; Mengapa aku memilih produk ini, dan siapa “aku” dalam pilihan itu? Olehnya yang dicari warung dan makanan yang disuguhkan sekarang ini adalah rasa yang menyentuh, bukan hanya lidah, tapi juga hati, artinya selera manusia bukan hanya soal rasa lidah, tapi bergerak bersama memori, konteks dan nilai hidup yang sedang bergeser.

Mengimplementasikan The Meaning Economy di Jepara

Istilah The Meaning Economy ini diperkenalkan oleh pemikir dan pelaku global seperti Jeremy Heimans, Aaron Hurst dan belakangan oleh akademisi seperti Jogn Hagel. Mereka menyadari bahwa manusia abad ke – 21 semakin jenuh dengan konsumsi kosong. Mereka ingin membeli sesuatu yang membuat mereka merasa hidup, merasa memiliki arti, merasa tenang menikmati dan merasa dilihat. Hal ini bukan hanya tentang kualitas makanan yang dijual, bukan tentang kompetitor, tetapi tentang makna yang hilang dari setiap sajian.

LIHAT JUGA :  Libur Sebulan Penuh Selama Ramadan Batal, Liburan Anak Sekolah 14 Hari, Catat Tanggal dan Jadwalnya

Konsumen kini memilih bukan hanya karena lapar, tapi karena ingin merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, lebih lembut dan lebih bermakna. Ayam goreng, minuman teh yang dulu menjadi hadiah ulang tahun kini terasa hambar, bukan karena bumbu dan racikannya berubah, tapi karena emosinya hilang.

Sekarang ini, dunia global memasuki masa ketika waralaba besar bisa dikalahkan oleh UMKM dengan kios kecil, karena yang kecil tahu bagaimana mendekap pelanggan. Mereka menawarkan bukan sekedar produk, tapi alasan untuk percaya dan alasan untuk kembali.

Pertanyaannya adalah Bagaimana Jepara dapat menangkap realitas dunia usaha dengan pendekatan The Meaning Economy ini?

Jepara memiliki potensi kuliner yang sangat beragam di setiap desa seperti kuliner horog-horog, cendol, gethuk, meniran, blendung, adon adon coro, sego pecel dan lain lain yang membutuhkan sentuhan lebih baik dari sisi penyediaan destinasi kuliner maupun kemasan sajian khas lokal jepara.

Destinasi kuliner khas lokal membutuhkan rancangan pendirian warung yang bagaikan jaring-jaring, ada, berdiri dan tersedia di setiap desa se Kabupaten Jepara dengan arsitektur yang khas dan unik yang sesuai karakter masing masing desa sehingga memberikan rasa nyaman, nyaman, cerah ceria dengan sentuhan ruagan yang seni, berbudaya dan alami. Warung ini, menjadikan konsumen merasa di dalam alam pikirannya dan bernostalgia dengan bayangan hidupnya.

Sementara warung lokal menyapa pelanggan dengan menyebut nama dan menawarkan sajian menu kuliner yang disuguhkan sambal dengan cerita ibu mereka, menjual horog – horog bercampur dengan pecel sambil melihat ulegan bumbu yang natural, menyajikan cendol dawet dengan senyuman menawan dan lain sebagainya.

LIHAT JUGA :  Halmahera Utara dan Bintan Teken Kerjasama dengan Jepara, Kembangkan Pariwisata Hingga Pengolahan SDA
The Rise of the Meaning Economy And Tourism at Jepara (Foto penyajian pecel pakis dengan horog-horog)
The Rise of the Meaning Economy And Tourism at Jepara (Foto penyajian pecel pakis dengan horog-horog)

Dari sana, Jepara telah memiliki modal dasar untuk mengimplementasikan pendekatan The Meaning Ekonomy sebagai upaya menghidupkan ekonomi kerakyatan yang berbudaya. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara menggerakkannya?

Menciptakan The Meaning Tourism

Ketersediaan Warung dan Kuliner Lokal Jepara membutuhkan pemikiran yang cerdas yaitu bagaimana semua itu dapat dipasarkan dan dijual secara sustsinable atau berkelanjutan?

Hal itu membutuhkan pendekatan The Meaning Tourism Integration yaitu Wisata Integrasi Berbasis Makna yang tujuannya adalah warung dan kuliner khas Jepara dapat dipasarkan dan dijual secara berkelanjutan.

Model pendekatan ini adalah menciptakan Tourism Information Centre yang integratif yang menjadi pusat informasi pemasaran potensi destinasi wisata di desa-desa se Kabupaten Jepara dengan satu asumsi atau anggapan bahwa jika pariwisata desa bisa terpasarkan dan terjual kepada konsumen maka warung-warung lokal yang menyajikan makanan khas desa-desa juga akan terjual dan dibeli oleh wisatawan.

Konsekwensinya, sistem yang dibangun adalah integrasi antara desa wisata dan warung kulinernya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain.

Pembangunan Tourism Information Centre menjadi sangat penting sebagai solusi dan alternatif untuk menjadikan kuliner-kuliner di desa hidup. Selain itu juga agar desa memiliki Pendapatan Asli Desa (PADes) yang mandiri. Selain itu juga agar kreatifitas dan inovasi masyarakat desa menjadi tertantang dan berkembang.

Melalui pendekatan The Meaning Ekonomy, inovasi masyarakat desa se-Kabupaten Jepara untuk menghidupkan kembali budaya, seni, dan ekonomi lokal akan muncul dan berkembang, yang kemudian difasilitasi dan didorong secara solutif oleh The Meaning Tourism yang terintegrasi sehingga tercipta jaminan wisata dan ekonomi desa se-Kabupaten Jepara yang berkelanjutan. Muara dari proses ini bisa menciptakan desa se-Kabupaten Jepara yang unggul, lestari dan mandiri.

* Hisyam Zamroni, Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara