HALO JEPARA- Tak banyak orang yang memulai hidup dari desa kecil, menembus sekat keterbatasan, lalu dipercaya mewakili negara dalam forum-forum internasional. Namun Tohir membuktikan bahwa asal-usul bukanlah penghalang untuk meraih mimpi besar.
Dengan ketekunan, semangat belajar yang tinggi, dan prinsip hidup yang kuat, ia melangkah dari jalanan berdebu di Purwogondo menuju ruang-ruang penting di tingkat nasional dan dunia.
Kehidupannya adalah cermin dari perjuangan tanpa henti, dedikasi tulus, dan keinginan kuat untuk selalu memberi manfaat bagi sesama.
Tohir lahir di Jepara, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Purwogondo, Kecamatan Kalinyamatan pada tanggal 3 April 1945. Ia merupakan anak pertama dari pasangan Ngadiman dan Muharomah.
Sejak kecil, Tohir dikenal sebagai pribadi yang tekun dan pantang menyerah. Nilai-nilai kerja keras itu tertanam kuat dalam dirinya dan menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya.
Tohir mengawali pendidikan di Sekolah Rakyat Purwogondo dan lulus pada tahun 1957. Ia kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Jepara dan lulus pada tahun 1960, lalu menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Kudus dan lulus pada tahun 1963.
Setelah itu, pada tahun 1965, Tohir melanjutkan pendidikan D3 di Universitas Diponegoro (Undip) dan menamatkannya sekitar tahun 1968.
Tak puas dengan pencapaian tersebut, Tohir terus mengejar ilmu. Setelah menikah dengan Soelichatun, gadis dari RT seberang, ia kembali melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 1980.
Pasangan ini dikaruniai empat orang anak. Tohir juga berhasil meraih gelar magister (S2) dari George Washington University, Amerika Serikat pada tahun 1987 melalui beasiswa.
Perjalanan karier Tohir dimulai dari hal-hal sederhana. Ia pernah menjajakan telur asin, ikan asin, hingga koran di pinggir jalan. Bahkan, sempat pula menjadi pemborong untuk urukan empang. Tahun 1970–1971, ia bekerja sebagai staf biasa di kantor BKKBN pusat.
Namun, dengan semangat dan ketekunan yang tinggi, perlahan ia naik jabatan menjadi kepala bagian dan sering ditugaskan ke berbagai daerah di Indonesia.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Amerika, Tohir kembali ke tanah air dan diangkat menjadi kepala biro. Dedikasi dan loyalitasnya membuatnya dipercaya untuk mewakili Indonesia dalam berbagai forum internasional setiap tahunnya.
Ia juga menjadi pimpinan proyek SIDUGA, yang bekerja sama dengan lembaga internasional, khususnya UNICEF.
Dalam perannya, Tohir kerap menjadi narasumber di pelatihan-pelatihan untuk peningkatan kesejahteraan ibu dan anak, baik di daerah tertinggal dalam negeri maupun di luar negeri.
Prestasi dan integritasnya membuat Tohir dipercaya menjadi asisten Menteri Pemberdayaan Perempuan pada masa kepemimpinan Ibu Khofifah Indar Parawansa. Jabatan tersebut diembannya hingga akhirnya pensiun dari dunia pemerintahan.
Meski telah mencapai banyak hal, Tohir tidak melupakan kampung halamannya. Ia memiliki tekad kuat untuk membangun Jepara. Pada tahun 2007, ia memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai dosen di STIENU (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama) Jepara.
Selama delapan tahun, ia mencurahkan ilmunya kepada generasi muda, sebelum akhirnya pensiun dan menikmati masa tuanya bersama keluarga tercinta.
Tohir wafat pada 2 Agustus 2021. Ia dikenang sebagai sosok pekerja keras, rendah hati, dan sangat mencintai keluarganya. Salah satu pesan hidup yang selalu ia wariskan kepada anak-cucunya adalah, “Sama-sama makan nasi kok nggak bisa?”
Kalimat sederhana namun sarat makna yang menyiratkan semangat untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah.
*Bundari Danaya Rinjani, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Komunikasi dan Desain Unisnu Jepara












