SOSOK Kiai Charis Rohman, Tumbuh dari Pesantren, Mengabdi untuk Umat

SOSOK Kiai Charis Rohman, Tumbuh dari Pesantren, Mengabdi untuk Umat
SOSOK Kiai Charis Rohman, Tumbuh dari Pesantren, Mengabdi untuk Umat

HALO JEPARA- Lelaki paruh baya dengan penampilan sederhana dan sikap rendah hati itu tampak khusyuk menatap lembar demi lembar kitab kuning yang terbuka di hadapannya. Senyum hangat tak pernah lepas dari wajahnya, mencerminkan ketenangan dan ketulusan dalam menimba ilmu.

Di tengah kesibukannya sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Jepara, ia tetap meluangkan waktu untuk belajar dan menelaah kitab-kitab dari berbagai disiplin ilmu, seperti fikih, usul fikih, tafsir, dan hadist.

Dialah KH Charis Rohman, atau yang lebih akrab disapa Yi Charis. Sosok bersahaja yang tak hanya dikenal karena kedalaman ilmu kitabnya, tetapi juga karena pengabdiannya yang tulus kepada umat. Baginya, mengabdi dan melayani bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hati yang melekat dalam setiap langkah kehidupannya.

Dalam perjalanan hidupnya, Kiai Charis membagi 3 definisi peran. Pertama, ia berjuang di jalan dakwah sebagai guru ngaji keliling, berpindah dari satu majelis taklim ke majelis lainnya untuk membimbing umat. Kedua, ia menjadi tulang punggung keluarga, berjuang dalam bidang ekonomi demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Ketiga, ia terus memperkaya pemahaman dengan membaca kitab-kitab klasik warisan para ulama, yang menjadi sumber inspirasi dan pedoman serta pemikiran dalam memaknai ajaran Islam serta menjalani hidup dengan penuh kebijaksanaan.

Meski hari-harinya padat, ia tetap menyempatkan waktu untuk keluarga. Ia tidak membawa persoalan pekerjaan ataupun urusan organisasi ke dalam rumah, karena ia paham betul bahwa istrinya telah cukup lelah mengurus dan membesarkan anak-anak mereka.

Di waktu senggang, ia senang bermain catur dan bulu tangkis. Namun di balik itu semua, ada satu kebiasaan yang menjadi ruang perenungannya. Membaca buku dan kitab, sambil ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok.

Dua benda ini  yang menurutnya selalu setia menemani saat ia merenungkan makna hidup dan arah langkah ke depan.

Kiai Charis Rohman lahir pada 24 Juli 1975 di Desa Sinanggul, RT 04 RW 04. Ia merupakan anak keempat dari enam bersaudara, dari pasangan H. Sunardi dan Hj. Sumiatin. Sejak kecil, Charis tumbuh dalam lingkungan pesantren.

Pada kelas 4 SD, ayahnya mengirimkan Charis untuk nyantri di Pesantren Heru Cokro, Sinanggul, Mlonggo, yang diasuh oleh Kiai Sahil.

LIHAT JUGA :  520 Santri Diniyyah Ikuti Pekan Madaris NU, Jepara Siap Jadi Percontohan Jateng

Di sana, Charis mulai menekuni pendidikan agama secara intensif, bahkan pada kelas 5 SD, ia diminta langsung oleh Kiai Sahil untuk mengikuti pendidikan di Madrasah Tsanawiyah yang dikelolanya.

Hanya dalam waktu satu minggu, Charis dinaikkan ke kelas dua, sehingga ia lulus SD dan Madrasah Tsanawiyah secara bersamaan. Namun karena madrasah tersebut ditempuh secara nonformal, ia tidak mendapatkan ijazah.

Setelah menyelesaikan masa belajarnya di Pesantren Heru Cokro, Charis kemudian diantarkan oleh Kiai Sahil dan ayahnya ke Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, yang diasuh oleh KH. Muhammad Dimyati Amin. Pesantren ini terletak di Kampung Cidahu, Desa Tanagara, Kecamatan Candisari, Kabupaten Pandeglang, Banten.

SOSOK Kiai Charis Rohman, Tumbuh dari Pesantren, Mengabdi untuk Umat
SOSOK Kiai Charis Rohman, Tumbuh dari Pesantren, Mengabdi untuk Umat

Di bawah bimbingan langsung Abuya Dimyati, Charis mempelajari berbagai kitab kuning klasik yang mencakup fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadis, hingga tasawuf. Ia belajar secara langsung dari Abuya, menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab tanpa harakat yang dikenal dengan sebutan “kitab gundul”, sebuah metode yang menuntut kemampuan bahasa Arab yang kuat serta pemahaman mendalam.

Setelah dua tahun menimba ilmu di Raudhatul Ulum, pada akhir tahun 1990, Charis Rohman melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri. Perpindahan ini merupakan saran dari Kiai Sahil untuk memperluas wawasan dan memperdalam ilmu agama.

Di Ploso, ia belajar langsung kepada KH. Fuad Mun’im, putra keempat dari pendiri pondok, KH. Ahmad Jazuli Usman. Di sinilah Charis benar-benar mengasah kemampuannya dalam membaca dan memahami kitab kuning, serta memperdalam akhlak, adab, dan tradisi pesantren yang kuat.

Selama nyantri di Ploso, Charis termasuk salah satu santri ndalem, yaitu santri yang tinggal di dalam rumah kiai dan membantu melayani kebutuhan beliau. Kedekatan ini memberinya banyak pengalaman spiritual dan sosial, terutama dalam hal mendengarkan nasihat dari Gus Fu (KH. Fuad Mun’im) serta menyaksikan langsung bagaimana beliau menyambut tamu dari berbagai latar belakang dengan penuh kearifan.

Lingkungan ini membentuk karakter Charis menjadi pribadi yang tenang, tekun, dan berwawasan luas dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan.

Selama kurang lebih 15 tahun, Charis menjalani kehidupan pesantren dengan penuh ketekunan dan tanpa banyak gejolak. Hari-harinya diisi dengan mengaji, deras (mengulang hafalan), belajar, dan membina diri secara spiritual.

LIHAT JUGA :  Haul Gus Dur ke-16 dan Harlah NU ke-103 Digelar di Pusat Pemerintahan Jepara, Teguhkan Persatuan dan Komitmen Kebangsaan

Di pesantren inilah ia kemudian dipertemukan dengan jodohnya, Naili Risalati, seorang santriwati yang juga keponakan dari Gus Fu. Mereka menikah pada tahun 1996, saat Charis berusia 21 tahun. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai enam orang anak.

Pada saat menikah, Charis Rohman belum memiliki pekerjaan tetap dan masih aktif sebagai santri di bawah bimbingan Gus Fu. Setelah ayahandanya wafat, atas izin Gus Fu, ia pulang ke kampung halamannya di Jepara untuk menemani sang ibunda.

Ia kembali bersama istri dan anak sulungnya, kemudian bekerja di gudang mebel milik adiknya selama 14 tahun. Di sela-sela pekerjaannya, Charis juga aktif mengajar di Madrasah Darusalam. Seiring berjalannya waktu, ketika dirinya mulai lebih sibuk dengan kegiatan keagamaan dan sosial, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di gudang mebel dan membuka usaha sendiri karena dirasa dia lebih fleksibel dalam mengatur waktu. Usaha ini masih ia jalankan hingga sekarang.

Dua tahun setelah kepulangannya ke Jepara, Charis Rohman mulai aktif dalam struktur Nahdlatul Ulama. Ia dipercaya menjadi pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Mlonggo. Meski usianya saat itu baru 33 tahun, ia diberi amanah sebagai Wakil Rois Syuriah, mendampingi Habib Muhammad Muttahar, seorang ulama sepuh dan panutan masyarakat Mlonggo.

Dari Habib Muh, Charis mengaku banyak belajar tentang kepemimpinan, keteladanan, dan pengabdian kepada umat.

Setelah wafatnya Habib Muhammad Muttahar, Charis kemudian dipercaya untuk menjabat sebagai Rois Syuriah MWC NU Mlonggo selama dua periode berturut-turut. Pengalaman ini semakin memperkuat perannya sebagai tokoh agama sekaligus pemimpin masyarakat.

Kepercayaan demi kepercayaan terus datang kepadanya, termasuk saat ia terpilih menjadi Ketua Tanfidziyah dalam Konfercab ke-32 PCNU Kabupaten Jepara.

Charis Rohman mengaku tak pernah memiliki ambisi pribadi untuk mengejar jabatan atau kedudukan tertentu. Baginya, setiap amanah yang diemban adalah bagian dari pengabdian bukan untuk dihormati, tetapi untuk dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Prinsip ini terus ia pegang dalam setiap langkah pengabdiannya, baik di bidang sosial, keagamaan, maupun dalam kehidupan pribadi.

Pada tahun 2023, Charis memulai babak baru menikah kedua kalinya dengan seorang wanita bernama Khalimatus Sa’diyah. Dari pernikahan ini, ia berharap dianugerahi keturunan yang saleh dan salehah, serta keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Bagi Charis, keluarga adalah tempat bertumbuh dan menjadi support utama dalam menjalani kehidupan.

LIHAT JUGA :  Revolusi Santri, Syiir dan Fathul Mu'in: KH Ahmad Fauzan Membangun NU Jepara yang Berbasis Ilmu

Momen paling menentukan dalam perjalanan hidupnya adalah ketika ia dihadapkan pada berbagai ujian, persoalan ekonomi, dinamika dalam keluarga, hingga konflik dengan orang-orang terdekat. Namun, semua itu ia hadapi dengan keikhlasan, sebagaimana yang diajarkan para kiai dan guru-gurunya terdahulu yang merupakan  sumber inspirasinya.

Filosofi hidup yang ia pegang adalah mengalir, sabar, dan berserah diri pada kehendak Allah. Ia percaya bahwa segala sesuatu terjadi bukan tanpa alasan, dan tugas manusia adalah menjalaninya dengan tawakal.

Di titik kehidupannya saat ini, Charis merasa bahwa sebagian besar impiannya telah tercapai. Ia tinggal memaksimalkan peran dan potensi yang ada, baik dalam bidang ekonomi, karier, maupun kegiatan sosial keagamaan yang terus ia tekuni.

Namun, dari seluruh pengalaman hidupnya, ia menyimpulkan bahwa kesuksesan sejati bukanlah soal materi atau jabatan, melainkan ketika seseorang merasa dekat dengan Allah dan mendapat penilaian dari-Nya bahwa ia telah menjadi hamba yang baik, sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.

Di tengah puncak kariernya saat ini, Charis tidak ingin dikenang sebagai sosok besar atau pemimpin tertentu. Ia hanya ingin dikenal sebagai orang baik bagi anak-anaknya, istri-istrinya, dan umat yang mengenalnya dan semua yang menjadi tanggung jawabnya.

Ia ingin meninggalkan kesan bahwa hidup bukan soal pencapaian pribadi, tapi soal seberapa besar kita bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Kepada generasi muda, ia berpesan agar terus mencari pengalaman, menuntut ilmu, dan tidak pernah berhenti belajar. Menurutnya, tantangan di masa depan akan jauh lebih berat, dan hanya mereka yang berilmu, berakhlak, serta bermental tangguh yang mampu meneruskan estafet kepemimpinan dari para pendahulu.

Kini, Kiai Charis Rohman terus melanjutkan kiprah dakwah dan sosialnya, menggabungkan nilai-nilai pesantren, tradisi, serta semangat pengabdian kepada masyarakat. Perjalanan hidupnya adalah cerminan ketekunan, kesederhanaan, dan dedikasi tanpa henti untuk ilmu, agama, dan umat.

*Noor Saidah, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisnu Jepara