Opini  

CATATAN 7 Jam Aksi Berujung Anarkis di Jepara (bagian 1)

Anatomi Amuk Massa di Jepara: Dari Aspirasi hingga Anarki
Anatomi Amuk Massa di Jepara: Dari Aspirasi hingga Anarki

CATATAN 7 Jam Aksi Berujung Anarkis di Jepara (bagian 1)

*Mereka Bukan Peserta Aksi, Tapi Perusuh dan Penjarah, Inikah Dalang Pembuat Onar?

Jarum jam menunjukkan pukul 22.10 WIB, tapi lemparan batu dari arah sebelah selatan Jembatan Kanal masih terus “menghujani” sekumpulan aparat gabungan yang berada di sisi utara jembatan. Lemparan batu ada yang mengenai tameng polisi, menghempas di jalan hingga meja kursi lapak angkringan di tepi sungai yang membelah Jepara ini.

Aparat tak tinggal diam. Sejumlah polisi yang berboncengan sepeda motor “membalas” dengan menembakkan gas air mata. Seketika, kerumunan massa itu kocar kacir.

Namun kondisi itu hanya berlangsung sekitar 5 menit. Massa kembali merangsek maju mendekati jembatan. Bahkan kali ini, mereka nekat maju hingga masuk ke badan jembatan. Beberapa bahkan ada yang sudah maju melewati badan jembatan yang “memisahkan” dua kubu ini. Terlihat bambu panjang lengkap dengan umbul-umbulnya berada di tangan 2 orang kerumunan ini.

Dari jarak sekitar 7 meter, penulis melihat mayoritas kerumunan ini berusia belasan tahun. Mungkin usia pelajar SMP, SMA, anak baru kuliah dan sebayanya.

Sumpah serapah berloncatan dari mulut kerumunan massa ini. Mereka menghujat polisi yang berjarak sekitar 10 meteran di depannya. Kerumunan massa dan aparat hanya dipisahkan barakuda yang diparkir tepat di mulut jalan KS Tubun, turut wilayah Demaan, Kecamatan Jepara Kota.

LIHAT JUGA :  Balita Stunting di 4 Desa Disasar 354 Paket Jepara Sehat

Aparat lantas membentuk barikade, tak hanya sekadar untuk menahan pergerakan massa, namun juga menghalau mereka.

“Aspirasi kalian tadi sudah disampaikan. Silakan kembali ke rumah masing-masing,” kata salah seorang polisi.

Rupanya, imbauan ini tak meredakan pergerakan kerumunan massa. Mereka tetap nekat merangsek ke arah Mapolres Jepara.

Aparat yang sudah sigap langsung memukul mundur mereka. Kerumunan itu kocar kacir lagi, mereka lari tunggang langgang ke arah selatan. Ada yang ke arah Pamatan, mengarah ke Krapyak dan jalan di samping mushola Jembatan Kanal.

Sejumlah polisi berusaha mengejar kerumunan itu. Namun dari belakang, terdengar suara yang menghentikan langkah personel Sabhara itu.

“Stop. Tidak usah dikejar,” ujar suara itu.

Situasi mencekam ini sudah terjadi sekitar pukul 19.00 WIB. Dan kondisi “maju – mundur” itu berlangsung hingga sekitar pukul 24.00 WIB. (Pergerakan massa setelah itu akan ditulis terpisah atau bagian selanjutnya)

Beberapa jam sebelumnya, sekitar pukul 18.00-an WIB, massa dari Aliansi Jepara Bersatu yang terdiri dari sejumlah organ intra maupun ekstra mahasiswa, hingga oknum salah satu kelompok suporter klub sepakbola di Jepara sudah menggelar aksi di depan Mapolres Jepara.

LIHAT JUGA :  Jelang Ramadan, Polres Jepara Sita 698 Botol Miras, Narkoba dan Ratusan Butir Pil Setan

Aksi “sengaja” digelar menjelang Maghrib, karena “menunggu” kelompok massa dari salah satu kelompok suporter itu. Sabtu (30/8) sore, memang digelar laga antara Persijap vs Arema FC di Stadion GBK Jepara. Laga ini berakhir dengan skor 0-0.

Awalnya, aksi Aliansi Jepara Bersatu ini berjalan damai. Aspirasi seiring meninggalnya driver ojol Affan Kurniawan juga sudah disampaikan dengan berbagai tuntutannya.

Tetiba, ada sejumlah peserta aksi yang membakar ban. Tak hanya itu, mereka juga melemparkan kayu hingga batu ke arah polisi dan Mapolres Jepara. Karena kian beringas, aparat lantas menembakkan gas air mata ke arah kerumunan massa.

Aparat juga berusaha memukul mundur kerumunan massa ke arah jembatan kanal. Kerumunan massa kocar kacir ke arah jembatan. Namun ada juga sejumlah peserta aksi yang memilih “berlindung” di Mapolres Jepara.

Informasi yang dikumpulkan di lapangan menyebutkan, sebelumnya memang ada “kesepakatan” dari Aliansi Jepara Bersatu jika demonstrasi ricuh, maka aksi akan dihentikan dan dibubarkan.

Peserta aksi yang membubarkan diri dan “berlindung” di Mapolres Jepara ini merupakan kalangan mahasiswa salah satu kampus di Jepara. Sedang massa yang kocar-kacir dan tetap melanjutkan demo di jembatan kanal merupakan oknum suporter sepakbola.

LIHAT JUGA :  Detik-detik Tim Siraju Bubarkan Tawuran di Jalan Pemuda Jepara, Juga Amankan Sejoli Berduaan di Pantai

Aksi mereka inilah yang terus dilakukan hingga sekitar pukul 24.00 dan lalu bergeser ke DPRD Jepara. Sekitar pukul 12.45 kerumunan massa berhasil membakar gedung DPRD Jepara.

Sosok N yang pernah menjadi salah satu aktivis muda organ intra dan ekstra mahasiswa di Jepara disebut sebagai salah satu inisiator yang mengorganisir dan mengorkestrasi massa aksi. Pemuda asal Mlonggo itu disebut berkolaborasi dengan oknum suporter sepakbola berinisial B yang menggelar aksi selama 7 jam yang berakhir anarkis itu.

Aksi kelompok ini yang akhirnya menjebol pagar, membakar dan sekaligus memicu penjarahan oleh belasan atau puluhan remaja tanggung di Gedung DPRD Jepara.

Aksi kelompok ini memang di luar “tradisi” demo di Jepara. Selama 10 tahunan terakhir, aksi demo berbagai elemen di Jepara baik dari kalangan mahasiswa, ormas keagamaan, ormas kepemudaan dan lainnya berjalan lancar. Aspirasi tersampaikan tanpa harus berakhir ricuh, anarkis apalagi disertai penjarahan.

(Bersambung)

Caption foto: Api terlihat masih menyala di depan Gedung DPRD Jepara yang dibakar dan sekaligus dijarah kerumunan massa, Minggu (31/8/2025) dini hari.